Wednesday, January 3, 2018

Pedagogi dan guru yang salah memilih senjata

“Kita sudah tidak relevan lagi Basineng, kita sedang kekurangan senjata untuk bisa menjadi pengajar dan Pendidik yang baik, dunia terlalu cepat memacu diri, kita tertinggal” aku melempar kalimatku di pagi berembun, di hari pertama tahun baru ini. Kita memutuskan untuk melepas tahun yang sudah menua dengan mendaki, menghabiskan malam dipuncak tertinggi yang bisa kita capai. Kegiatan yang bagi sebagian orang adalah hal yang membuang-buang tenaga dan waktu, yang bagi sebagian orang menikmati kembang api ditengah hingar bingar kota adalah cara yang paling tepat untuk menyambut pergantian tahun. Tapi bagi kita adalah sebuah jalan perenungan.

Kabut perlahan menjauh, memberikan pemandangan yang semakin jelas, kita sedang memandang dari ketinggian, memandang redup lampu yang mulai terganti dengan mentari yang semakin jauh menapak langit.

“Kita adalah tentara tua yang masih menggunakan bambu runcing dalam berjuang melawan penjajah, sedangkan lawan kita adalah tank-tank yang siap melumat. Kita kalah bahkan sebelum kita menapak untuk melawan.” Aku melanjutkan kalimatku, berharap kau bisa menanggapinya agar pagi ini tidak berlalu dengan sekedar menyeruput teh dan menikmati rasa asin dari mi instan yang kita seduh subuh ini. Kau masih diam.

“Kau tahu Basineng, banyak dari kita, mungkin termasuk aku dan kau sendiri, mengaku sebagai pengajar, mengaku sebagai guru yang ingin mencerdaskan bangsa, sebagai ujung tombak dalam membangun fondasi bangsa dengan menciptakan generasi-generasi yang mampu berjuang dan bertahan dalam menghadapi dunia yang semakin kejam, dunia yang menyajikan banyak tantangan yang terkadang jauh lebih besar dibanding apa yang bisa kita perkirakan.” Lanjutku.

Aku terdiam beberapa saat, menunggu kau berkomentar, beberapa saat. Tapi kau masih diam.

“Kita punya mimpi yang besar untuk menciptakan generasi yang seperti itu, tapi kita memilih senjata yang salah, atau lebih tepatnya, kita hanya tahu senjata yang sering dipakai dimasa lalu, senjata yang tidak lagi relevan untuk kita gunakan disaat sekarang ini, senjata yang hanya mampu mengantar kita menciptakan generasi penghafal.” Aku masih menunggumu untuk menanggapi kalimat-kalimatku, kulihat kau masih asik dengan gelas yang menempel dibibirmu, menikmati hangat yang mengalir ditenggorokanmu ditengah dingin yang menyelimuti.

“Selama ini aku berusaha menggunakan berbagai metode dan pendekatan, menyusun rencana pembelajaran dengan sebaik-baiknya, tapi terkadang, aku masih kalah Basineng.” Aku diam dan memberi jeda pada kalimatku.

“Aku tidak tahu apa yang salah Basineng, lebih tepatnya apa yang sudah terlewatkan?”

“Kau tahu pedagogi dalam pembelajaran?” kau bertanya mendahului kalimat yang baru saja akan kuucapkan.

“Iya, aku pernah mempelajarinya. Itu adalah dasar, pengetahuan yang menjadi fondasi bagi setiap pengajar, bagi setiap orang yang mengakui dirinya sebagai guru. Sebuah ilmu yang menjelaskan bagaimana ilmu itu disampaikan, bagaimana ilmu itu diberikan kepada peserta didik. Kurang lebih, sederhananya seperti itu.” Jawabku.

“Apa kau tahu bahwa ilmu pedadogi adalah sebuah jembatan?” kau lagi-lagi melemparkan pertanyaan kepadaku, sembari mengapit gelas dengan kedua tanganmu yang mengepulkan asap samar dari hangat tehmu.

“Maksudmu ia digunakan sebagai landasan dalam menyampaikan pembelajaran yang kita bawa agar bisa tersampaikan dan terpahamkan kepada siswa secara baik dan maksimal. Iya, aku paham itu.” Jawabku lagi.

“Iya, kurang lebih ilmu pedagogi adalah seperti yang kau bilang. Sebelum kita lanjut berbicara tentang jawaban atas kegelisahanmu akan pertanyaanmu sebelumnya, apa kau ingat pembicaraan kita tempo hari, tentang dunia Pendidikan adalah dunia yang kompleks, yang tidak bisa hanya dipandang dari satu sisi saja, yang tidak bisa kita jalani hanya pada satu jalan saja? Ku harap kau masih mengingatnya. Maka dari itu, diskusi kita saat ini hanya akan berfokus pada pedagogi dan proses pembelajaran. Tidak menimbang hal-hal lain diluar dua hal ini.” Sepertinya kau sudah mulai menghangatkan kepalamu, menjadikan kalimat-kalimatmu jadi lebih panjang dari sebelumnya.
“iya, aku paham itu.” Jawabku singkat.

“Pedagogi adalah jembatan, yang membuat materi yang ingin kita sampaikan kepada peserta didik dapat tersalurkan dengan baik. Baik itu hal-hal terkait ilmu sosial ataupun ilmu alam, pengetahuan itu tidak akan sepenuhnya diterima dengan maksimal oleh peserta didik jika kita tidak mengantarkannya dengan baik dan benar. Yang aku maksud dengan baik dan benar adalah proses penyampaian yang bisa memancing motivasi dan ketertarikan mereka terhadap apa yang kita ingin berikan kepada mereka. Sederhananya, jika mereka tertarik dengan apa yang kita sampaikan, maka kita tidak perlu jauh-jauh mengantarnya, karena mereka akan datang menjemput pengetahuan itu sendiri. Jadi, pedagogi adalah jembatan dan materi pelajaran adalah paket yang harus sampai kepada siswa.” Jelasmu panjang lebar. Belum sempat aku mencerna apa yang barusan kau katakan, kau kembali menyulam kata dan melempar kalimat-kalimatmu kepadaku, yang membuatku lagi-lagi tak sempat menikmati teh yang mulai mendingin ditanganku.

“Tapi apa kau tahu kawan, ada satu hal yang selalu luput dalam mendukung dua hal ini untuk menciptakan proses belajar yang maksimal. Dan hal ini yang menurutku berkaitan dengan analogimu sebelumnya, tentang kita yang sebagai pengajar, sebagai guru bagi peserta didik, yang salah memilih senjata dalam perang melawan kebodohan. Kita kadang kala melupakan ‘media’ yang menjadi unsur penting yang kita perlukan dalam membangun suasana belajar yang efektif dan efisien.”

“Kalau kau sedang berbicara tentang media pembelajaran, aku sudah tahu Basineng, bahwa media pembelajaran menjadi salah satu unsur penting dalam menciptakan proses pembelajaran yang menarik bagi siswa, aku paham itu, dan aku sudah menggunakannya. Namun, penggunaan media tidak sepenuhnya bisa mendukung proses pembelajaran, bahkan kadang ia menjadi pengalih baru bagi peserta didik.” Potongku,

“Ya aku tahu itu kawan, kau sudah mengetahui teori pembelajaran dengan sangat baik, kau sudah memahami teori belajar kognitif, behavioristik, ataupun konstruktivistik dengan mendalam. Pun dengan media pembelajaran, terkait definisi, jenis dan penggunaannya, akupun paham kau sudah tahu itu. Tapi, apa kau sadar, bahwa selama ini kau selalu merasa bahwa menciptakan media pembelajaran yang terbarukan merupakan langkah yang baik dalam melengkapi proses belajar mengajarmu. Kau fokus pada media pembelajaran yang kau ciptakan dan memaksa siswamu untuk menggunakan media tersebut. Apa kau tahu bahwa dasar dari penggunaan media adalah untuk ‘memudahkan’ terlepas dari apakah kau menciptakan media itu sendiri atau hanya memanfaatkan dari apa yang sudah ada sebelumnya. Kau tidak perlu susah-susah untuk meciptakan aplikasi atau media super canggih dan kekinian jika kau merasa bahwa siswamu akan susah untuk mengadaptasi dan menggunakannya, karena lagi-lagi kau harus paham bahwa media pembelajaran adalah unsur yang digunakan untuk ‘memancing ketertarikan’ mereka yang bisa memudahkan kita sebagai guru untuk menyampaikan materi yang ingin kita sampaikan.” Kalimat-kalimat panjang lainnya kau lontarkan tanpa memberi jeda kepada dingin untuk memotong penjelasannmu. Angin gunung berhembus, menembus dan dengan nakal menyapa kulitku yang sudah kuselimuti dengan kantong tidur yang kita sewa tempo hari sebelum memulai pendakian.

“Kau lupa kawan, bahwa kita bisa memanfaatkan sesuatu yang dekat dengan siswa dan menjadikan itu sebagai media pembelajaran kita.” Lanjutmu.

“Aku paham media dan teknologi, aku punya websiteku sendiri.” Aku kembali memotong kalimat-kalimat panjangmu.

“Aku tidak berbicara apakah kau tahu media dan teknologi atau tidak. Aku berbicara tentang apakah kau bisa menggunakan sesuatu yang ‘dekat’ dan ‘familiar’ bagi siswa untuk kau jadikan media pembelajaranmu. Kau membuat websitemu sebagai sumber informasi online untuk materi-materimu, itu bagus. Tapi apa kau sadar kecendrungan siswa? Mari kita sebut, smartphone, social media, meme dan komik di Instagram, youtube. Mereka lebih condong ke semua itu dibanding sesuatu yang kita buat sendiri dan menyuruh mereka untuk akrab dengan itu. Kau lupa bahwa siswa kita memiliki dunianya sendiri, dibanding memaksa mereka keluar dari dunia mereka, kenapa tidak kita masuk dan menjadikan dunia mereka sebagai wadah untuk menyampaikan materi yang ingin kita ajarkan.”

“Salah satu kelemahan kita adalah bukan karena kita tidak tahu bahwa media pembelajaran itu ada, tetapi kita tidak paham untuk menggunakan media dan teknologi yang dekat dan familiar dengan peserta didik kita kawan. Gunakan apa yang mereka sukai, dan kau tidak perlu menghabiskan waktumu untuk membuat mediamu sendiri. Karena sebagai pengajar dan pendidik kita harus fleksibel dalam menggunakan media pembelajaran.” Kau diam sesaat, kemudian kembali meraih gelas yang masih setengah berisi, mencicipinya sedikit, lalu berdiri dan berjalan menuju api unggun yang sudah mulai mengecil.


“Tehku mulai dingin” katamu, kalimat yang menutup pembicaraan kita pagi itu. Dan aku kembali diam dan mencerna apa yang barusan kita bicarakan. Kita, pendidik yang salah memilih senjata. 
Share:
Post a Comment