Sunday, December 31, 2017

Manusia Terpelajar dan Terdidik

Kita sering bertukar kata di hari-hari yang lalu Basineng. Di teras rumah yang terbuat dari kayu cempaka, dimana disetiap deritnya melepas aroma khas yang membuat pembicaraan kita menjadi sebuah kegiatan yang mampu membunuh waktu.

Kau pernah menyentil tentang bagaimana kau membagi manusia kedalam kelompok terpelajar, terdidik. Saat itu, aku berpikir semuanya sama saja, tak ada yang bisa kita jadikan pembeda untuk menyekat dua kata tersebut.

“Apakah kita berpikir tentang nilai atau makna dalam proses belajar, adalah sekat yang bisa kita jadikan landasan” Katamu singkat. Kau melihat sedikit sirat kebingungan diwajahku, mungkin terlihat dari kerutan didahiku ketika kau mulai mengucap kalimatmu.

“Maksudku, ketika kita berbicara tentang Pendidikan, variable yang terikat sangatlah banyak, Pendidikan bukah hanya tentang hasil, Pendidikan adalah proses sepanjang hayat, bukan dan tidak hanya berakhir diujung usia wajib belajar ataupun ketika kita sudah berhasil menggenggam ijazah” lanjutmu.

“Ketika kecil, aku selalu berpikir bahwa dengan mendapatkan nilai yang bagus dan menjadi juara kelas, aku bisa berguna bagi orang-orang disekitarku. Namun kemudian aku sadar bahwa, berbaur dengan komunitas yang lebih besar menuntutku untuk bisa memiliki lebih dari sekedar predikat juara kelas atau nilai tinggi disetiap mata pelajaran. Bahkan, banyak dari mereka yang berprestasi sama sekali tidak menjadi apa-apa didunia yang semakin menggila ini. Tapi, aku tidak sepenuhnya menghujat mereka yang fokus kepada nilai dan predikat, itu adalah salah satu variabel yang kita perlukan. Dan sekali lagi, ketika kita berbicara tentang Pendidikan, kita butuh lebih dari satu variable.” Kau bercerita panjang lebar Basineng. Sore yang sedikit berbeda dari sore-sore sebelumnya, dimana kau hanya akan diam dan menanggapi sedikit pertanyaanku.

Angin bertiup menembus sela-sela dinding rumah, membuat dinding tersebut seakan bersiul mengeluarkan suara nyaring bak suling raksasa dimana ada dua anak 15 tahun yang sedang duduk dan bersandar dikursi yang tersulam dari rotan. Bertukar kata sembari menikmati langit yang semakin menjingga diujung langit.

“Lalu, kata  terdidik dan terpelajar?” sambungku, ketika kau sudah kembali terdiam. Kau menoleh dan menjawab.

“Sudah banyak negara didunia modern yang mengetahui bahwa di dunia Pendidikan, khususnya sekolah telah banyak menghasilkan orag-orang yang secara teoritis sangat paham dengan kalimat-kalimat yang tertulis didalam buku, menyelesaikan soal-soal integral, mampu menyebutkan semua Bahasa latin hewan dan tumbuhan, tetapi gagap ketika menghadapai permasalahan yang tidak pernah mereka temukan di dalam buku. Mereka lalu mengubah cara mereka mengatur system sekolah untuk menjamin bahwa apa yang mereka hasilkan dari system yang kita sebut sekolah dapat menghasilkan orang-orang yang secara teoritis dan praktis dapat diandalkan. Tapi disini, kita masih terperangkap system lama, system kuno yang hanya bisa menghasilkan orang-orang pintar tidak bermoral, aku berkata seperti ini bukan untuk mengeneralisasi, aku hanya mengatakan bahwa masih banyak dari kita yang masih melihat Pendidikan dari sudut pandang lubang jarum” Sekali lagi kau terdiam beberapa lama.

“Lalu, kata  terdidik dan terpelajar?” tanyaku lagi, aku tidak tahu kenapa ada jeda yang begitu lama bagimu untuk menjelaskan dua kata tersbut.

“Kita perlu berubah, nilai dan makna adalah dua hal yang menurutku harus kita jadikan pondasi. Terpelajar ketika kita hanya sekedar tahu dan paham tentang sesuatu, terdidik ketika kita bisa memaknai apa yang kita tahu dan pahami, apa, kenapa, bagaimana. Setidaknya itu yang kemarin-kemarin aku percayai” jawabmu, yang bukannya membuatku paham dengan maksudmu, tetapi malah membuatku semakin bingung.

“Apa maksudmu dengan -Setidaknya itu yang kemarin-kemarin kau percaya-?” tanyaku. Kau lagi-lagi diam dan memberi jeda antara pertanyaanku dan penjelasanmu.

“Selama ini menjadi orang yang lebih dari sekedar terpelajar adalah keinginanku, aku ingin menjadi sosok terdidik yang bukan hanya paham tentang sesuatu, tapi juga bisa memahami untuk apa, kenapa, dan bagaimana sesuatu tersebut dapat menjadi sesuatu yang berguna. Tapi aku salah, masih ada satu variable yang ternyata luput.” Sinar oranye langit menyambut kalimatmu. Kau diam. Aku diam. Hanya suara celah dinding rumah yang tertiup angina yang terdengar.

“Aku lupa bahwa, sekedar tahu, paham, memaknai akan sesuatu belumlah cukup, ketika variable terampil tidak kita ikutkan dalam mata rantai Pendidikan dan proses pembelajaran. Terampil dam artian, setelah tahu, pahan dan memaknai akan sesuatu, aku bisa menciptakan hal-hal lain yang memiliki nilai guna yang lebih dari sesuatu tersebut.” Katamu,

Jingga langit sudah mulai menghitam. Kata-katamu masih terlalu berat untuk kucerna waktu itu. Aku pulang setelah menyelesaikan teh manis yang kau sajikan sebelum kita mulai berbicara. Aku pamit.

10 tahun setelahnya, aku kembali mengingat percakapan kita, aku kembali ingat akan kalimat-kalimat yang kau ucapkan disore itu. Ditapak langkahku yang sekarang, aku paham Basineng. Tentang proses belajar yang kau maksudkan. Yang kemudian membuatku kembali bingung adalah, bagaimana aku bisa memahamkan system yang sudah mandarah daging dikepala mereka-mereka yang menjalankan system tersebut. Kuharap kau bisa kembali bertemu denganmu dan berbicara lagi tentang topik yang sama, dan dengan solusi yang berbeda.


Share:
Post a Comment