Thursday, August 17, 2017

Variabel lain jarak dan waktu

Basineng, lamat-lamat ruangan dihadapanku semakin meluas, tadinya hangat, tadinya menenangkan. Namun waktu membuat jarak semakin menyayat. Aku ingat ketika kita belajar fisika, satu detik adalah ketika jam atom mencapai 9.192.631.770 hitungan. Dan seharusnya satu detik tidak selama ini, seharusnya. Tapi apakah waktu punya hitungannya sendiri ketika jarak menjadi variabel yang memisahkan antara kau dan segala bincang hangat kita disetiap sore lembayung? Aku tidak pernah paham Basineng, aku tidak pernah paham kapan waktu akan menjadi menyenangkan dengan segala ritme yang berdetak dan berganti tiap detiknya, dan kapan ia akan menjadi sangat menyesakkan dengan segala dentum derik alur waktu yang berganti. Aku tidak pernah paham Basineng. Apa mungkin aku terlalu banyak mengikuti bacaan tentang paham interpretivisme, dimana kebermaknaan adalah jawaban dari setiap pertanyaan yang kita ajukan?  Mungkin itu alasan kenapa terkadang penganut paham positivisme akan sulit memahami apa yang kita bicarakan disela-sela senyum tawa yang kita tukar satu sama lain, dalam selip bibir gelas teh, ditengah-tengah semilir angin sore.

Basineng, dulu aku sering berbasah-basahan ditengah deras guyur hujan, aku tak pernah mengeluh dingin. Tapi, entah karena waktu atau jarak, sekarang aku takut angin selatan, angin dingin yang membawa rinduku menjauh berlawanan arah. Dulu aku ingat sering ditengah-tengah riuh hutan kala malam, tak pernah sepi berani mengusikku, namun sekarang, kudapati diriku  terduduk dikeramaian tanpa tahu apa yang sedang kutakutkan.  Samar-samar ada kesan hangat yang begitu familiar, kesan hangat yang selau kucari dibalik kata-kata yang terangkai dalam alun-alun mimpi yang semakin jarang terlihat. Musim dingin Adelaide tersenyum sinis dikejauhan Basineng.

Aku juga ingat, ketika kita berdiskusi tentang jarak dan waktu, yang kita temukan adalah kecepatan, setidaknya itu yang dijelaskan dalam buku pelajaran fisika yang kita buka sesekali di jam istirahat. Tapi, disini aku menemukan hal lain yang bisa dijelaskan oleh jarak dan waktu. Variabel yang mungkin takkan bisa dipahami oleh beberapa orang, atau mungkin banyak orang. Variable yang membuat raga yang sehat bisa seketika lemah dan terpedaya, variabel yang menjadikan hangat desir angin menjadi sangat membekukan, variabel yang bahkan bisa membuatmu lupa perbedaan antara mean, modus, dan median, hal termudah yang bisa kau bedakan dimatakuliah statistika semester pertama. Kau mungkin akan tertawa jika kujelaskan tentang variabel itu Basineng, karena aku tahu kau sangat fanatik dengan paham positivisme, paham yang sangat lekat dengan pengalaman empirik, dan variabel yang sedang kuceritakan padamu sekarang adalah hal yang tidak bisa kau amati dengan indra. Aku sedang membicarakan rindu Basineng.

Share:
Post a Comment