Saturday, March 18, 2017

Kekaguman yang Kurahasiakan



Basieng, bagaimana kabar musim penghujan disana? Pagi ini aku membayangkan petrichor di ujung tanah-tanah basah yang setelah beberapa minggu kutinggalkan masih memberikan kesan yang kuat di indraku. Dan tentang kabarmu aku harap kau sedang dalam kondisi terbaikmu sekarang, karena sangat sulit untuk sekedar mendapatkan balasan cerita darimu, entah karena mungkin kau tidak menerima semua cerita yang kutujukan padamu, atau kau sedang diam-diam tidak ingin bercerita tentang sesuatu apapun kepadaku.
Aku sangat ingat bahwa dulu menulis tentang kekagumanku terhadap seorang gadis adalah hal yang mengasyikkan, membuat candu, memacu serotonin dalam otakku mengalir dengan lancarnya. Namun entah kenapa, semakin lama aku berada pada realita bahwa apa yang kukagumi kini telah berada dalam pelukanku, aku semakin enggan untuk menulis tentangnya. Ini bukan tentang rasa bosan atau tentang rasa penasaran yang kian memudar ketika kau telah paham dan mahfum tentang segala seluk beluk kekagumanmu terhadap sesuatu Basineng. Hanya saja, sekarang aku sadar bahwa aku menjadi semakin kikir untuk berbagi bahwa betapa bahagianya aku memiliki apa yang dulunya hanya bisa kukagumi. Aku semakin ingin menikmati segala sesuatunya pada batas diriku, dia dan tempat kami berada untuk saling berbagi cerita ataupun tawa. Aku tak ingin membaginya.
Dia sosok sempurna dibalik semua kekurangannya, sosok yang kuat dibalik banyak kelemahannya, sosok yang tenang dibalik panjang kalimat-kalimatnya. Aku bahkan tak pernah membayangkan akan mendapatkan keberuntungan yang begitu besar, yang jika ingin ditukar dengan delapan kehidupan lainnya, tak akan pernah mau untuk kutukar. Dia kekaguman yang biasa-biasa saja, namun mampu menjadikan hal yang biasa yang dia miliki menjadi luar biasa dimataku. Hal yang biasa-biasa itu menjadi kelebihan paling besar yang ia miliki, menurutku.
Dan tahukah kau Basineng, belum tuntas aku menyelesaikan kekagumanku padanya, kini ia memberikan lagi satu kekaguman baru kepadaku. Kekaguman yang mampu membuat perjalananku untuk kembali ketanah perantauan menjadi sangat berat, menjadi berkali-kali beratnya. Tanah rantau yang pada waktu dulu adalah tempat yang paling ingin kujejaki, sekarang menjadi tempat yang paling berat untuk kudatangi karena menghadirkan jarak antara dekapku dan kekaguman baruku itu.  Aku akhirnya paham bagaimana caranya rasa mampu membuat seseorang yang sangat kuat menjadi begitu lemah bersimpuh. Kekaguman itu membuatku makin hidup, sekaligus mati karena berada disisi yang lain dari ruang yang sering kami habiskan bersama, walaupun kebersamaan itu hanya merujuk pada kondisi ia sedang tertidur dan aku duduk sembari tersenyum memandanginya. Kala itu, aku melihat malaikat pada kekagumanku yang baru, malaikat yang selalu berdiskusi panjang denganku saat malam dengan tangisnya, malaikat yang selalu bermain denganku dengan gerak mungilnya.
Basineng, rasa-rasanya akan panjang cerita yang kubagi denganmu, tapi aku paham kau masih punya banyak hal yang ingin kau selesaikan. Biarlah ceritaku kututup sampai disini,  cerita datar tanpa klimaks yang hanya berisi ungkapan kekaguman pada sosok-sosok yang mungkin tidak kau kenal. Karena sekalipun kau tidak pernah bertemu dengan mereka, aku pernah mengundangmu untuk hadir kerumahku, tapi kau tidak pernah datang, kamu selalu sibuk sepertinya. Dan semoga kau juga segera mendapatkan kekaguman yang mampu membuatmu paham bahwa rasa selalu punya sejuta cara untuk membuatmu tak berdaya.


Share:
Post a Comment