Wednesday, January 3, 2018

Pedagogi dan guru yang salah memilih senjata

“Kita sudah tidak relevan lagi Basineng, kita sedang kekurangan senjata untuk bisa menjadi pengajar dan Pendidik yang baik, dunia terlalu cepat memacu diri, kita tertinggal” aku melempar kalimatku di pagi berembun, di hari pertama tahun baru ini. Kita memutuskan untuk melepas tahun yang sudah menua dengan mendaki, menghabiskan malam dipuncak tertinggi yang bisa kita capai. Kegiatan yang bagi sebagian orang adalah hal yang membuang-buang tenaga dan waktu, yang bagi sebagian orang menikmati kembang api ditengah hingar bingar kota adalah cara yang paling tepat untuk menyambut pergantian tahun. Tapi bagi kita adalah sebuah jalan perenungan.

Kabut perlahan menjauh, memberikan pemandangan yang semakin jelas, kita sedang memandang dari ketinggian, memandang redup lampu yang mulai terganti dengan mentari yang semakin jauh menapak langit.

“Kita adalah tentara tua yang masih menggunakan bambu runcing dalam berjuang melawan penjajah, sedangkan lawan kita adalah tank-tank yang siap melumat. Kita kalah bahkan sebelum kita menapak untuk melawan.” Aku melanjutkan kalimatku, berharap kau bisa menanggapinya agar pagi ini tidak berlalu dengan sekedar menyeruput teh dan menikmati rasa asin dari mi instan yang kita seduh subuh ini. Kau masih diam.

“Kau tahu Basineng, banyak dari kita, mungkin termasuk aku dan kau sendiri, mengaku sebagai pengajar, mengaku sebagai guru yang ingin mencerdaskan bangsa, sebagai ujung tombak dalam membangun fondasi bangsa dengan menciptakan generasi-generasi yang mampu berjuang dan bertahan dalam menghadapi dunia yang semakin kejam, dunia yang menyajikan banyak tantangan yang terkadang jauh lebih besar dibanding apa yang bisa kita perkirakan.” Lanjutku.

Aku terdiam beberapa saat, menunggu kau berkomentar, beberapa saat. Tapi kau masih diam.

“Kita punya mimpi yang besar untuk menciptakan generasi yang seperti itu, tapi kita memilih senjata yang salah, atau lebih tepatnya, kita hanya tahu senjata yang sering dipakai dimasa lalu, senjata yang tidak lagi relevan untuk kita gunakan disaat sekarang ini, senjata yang hanya mampu mengantar kita menciptakan generasi penghafal.” Aku masih menunggumu untuk menanggapi kalimat-kalimatku, kulihat kau masih asik dengan gelas yang menempel dibibirmu, menikmati hangat yang mengalir ditenggorokanmu ditengah dingin yang menyelimuti.

“Selama ini aku berusaha menggunakan berbagai metode dan pendekatan, menyusun rencana pembelajaran dengan sebaik-baiknya, tapi terkadang, aku masih kalah Basineng.” Aku diam dan memberi jeda pada kalimatku.

“Aku tidak tahu apa yang salah Basineng, lebih tepatnya apa yang sudah terlewatkan?”

“Kau tahu pedagogi dalam pembelajaran?” kau bertanya mendahului kalimat yang baru saja akan kuucapkan.

“Iya, aku pernah mempelajarinya. Itu adalah dasar, pengetahuan yang menjadi fondasi bagi setiap pengajar, bagi setiap orang yang mengakui dirinya sebagai guru. Sebuah ilmu yang menjelaskan bagaimana ilmu itu disampaikan, bagaimana ilmu itu diberikan kepada peserta didik. Kurang lebih, sederhananya seperti itu.” Jawabku.

“Apa kau tahu bahwa ilmu pedadogi adalah sebuah jembatan?” kau lagi-lagi melemparkan pertanyaan kepadaku, sembari mengapit gelas dengan kedua tanganmu yang mengepulkan asap samar dari hangat tehmu.

“Maksudmu ia digunakan sebagai landasan dalam menyampaikan pembelajaran yang kita bawa agar bisa tersampaikan dan terpahamkan kepada siswa secara baik dan maksimal. Iya, aku paham itu.” Jawabku lagi.

“Iya, kurang lebih ilmu pedagogi adalah seperti yang kau bilang. Sebelum kita lanjut berbicara tentang jawaban atas kegelisahanmu akan pertanyaanmu sebelumnya, apa kau ingat pembicaraan kita tempo hari, tentang dunia Pendidikan adalah dunia yang kompleks, yang tidak bisa hanya dipandang dari satu sisi saja, yang tidak bisa kita jalani hanya pada satu jalan saja? Ku harap kau masih mengingatnya. Maka dari itu, diskusi kita saat ini hanya akan berfokus pada pedagogi dan proses pembelajaran. Tidak menimbang hal-hal lain diluar dua hal ini.” Sepertinya kau sudah mulai menghangatkan kepalamu, menjadikan kalimat-kalimatmu jadi lebih panjang dari sebelumnya.
“iya, aku paham itu.” Jawabku singkat.

“Pedagogi adalah jembatan, yang membuat materi yang ingin kita sampaikan kepada peserta didik dapat tersalurkan dengan baik. Baik itu hal-hal terkait ilmu sosial ataupun ilmu alam, pengetahuan itu tidak akan sepenuhnya diterima dengan maksimal oleh peserta didik jika kita tidak mengantarkannya dengan baik dan benar. Yang aku maksud dengan baik dan benar adalah proses penyampaian yang bisa memancing motivasi dan ketertarikan mereka terhadap apa yang kita ingin berikan kepada mereka. Sederhananya, jika mereka tertarik dengan apa yang kita sampaikan, maka kita tidak perlu jauh-jauh mengantarnya, karena mereka akan datang menjemput pengetahuan itu sendiri. Jadi, pedagogi adalah jembatan dan materi pelajaran adalah paket yang harus sampai kepada siswa.” Jelasmu panjang lebar. Belum sempat aku mencerna apa yang barusan kau katakan, kau kembali menyulam kata dan melempar kalimat-kalimatmu kepadaku, yang membuatku lagi-lagi tak sempat menikmati teh yang mulai mendingin ditanganku.

“Tapi apa kau tahu kawan, ada satu hal yang selalu luput dalam mendukung dua hal ini untuk menciptakan proses belajar yang maksimal. Dan hal ini yang menurutku berkaitan dengan analogimu sebelumnya, tentang kita yang sebagai pengajar, sebagai guru bagi peserta didik, yang salah memilih senjata dalam perang melawan kebodohan. Kita kadang kala melupakan ‘media’ yang menjadi unsur penting yang kita perlukan dalam membangun suasana belajar yang efektif dan efisien.”

“Kalau kau sedang berbicara tentang media pembelajaran, aku sudah tahu Basineng, bahwa media pembelajaran menjadi salah satu unsur penting dalam menciptakan proses pembelajaran yang menarik bagi siswa, aku paham itu, dan aku sudah menggunakannya. Namun, penggunaan media tidak sepenuhnya bisa mendukung proses pembelajaran, bahkan kadang ia menjadi pengalih baru bagi peserta didik.” Potongku,

“Ya aku tahu itu kawan, kau sudah mengetahui teori pembelajaran dengan sangat baik, kau sudah memahami teori belajar kognitif, behavioristik, ataupun konstruktivistik dengan mendalam. Pun dengan media pembelajaran, terkait definisi, jenis dan penggunaannya, akupun paham kau sudah tahu itu. Tapi, apa kau sadar, bahwa selama ini kau selalu merasa bahwa menciptakan media pembelajaran yang terbarukan merupakan langkah yang baik dalam melengkapi proses belajar mengajarmu. Kau fokus pada media pembelajaran yang kau ciptakan dan memaksa siswamu untuk menggunakan media tersebut. Apa kau tahu bahwa dasar dari penggunaan media adalah untuk ‘memudahkan’ terlepas dari apakah kau menciptakan media itu sendiri atau hanya memanfaatkan dari apa yang sudah ada sebelumnya. Kau tidak perlu susah-susah untuk meciptakan aplikasi atau media super canggih dan kekinian jika kau merasa bahwa siswamu akan susah untuk mengadaptasi dan menggunakannya, karena lagi-lagi kau harus paham bahwa media pembelajaran adalah unsur yang digunakan untuk ‘memancing ketertarikan’ mereka yang bisa memudahkan kita sebagai guru untuk menyampaikan materi yang ingin kita sampaikan.” Kalimat-kalimat panjang lainnya kau lontarkan tanpa memberi jeda kepada dingin untuk memotong penjelasannmu. Angin gunung berhembus, menembus dan dengan nakal menyapa kulitku yang sudah kuselimuti dengan kantong tidur yang kita sewa tempo hari sebelum memulai pendakian.

“Kau lupa kawan, bahwa kita bisa memanfaatkan sesuatu yang dekat dengan siswa dan menjadikan itu sebagai media pembelajaran kita.” Lanjutmu.

“Aku paham media dan teknologi, aku punya websiteku sendiri.” Aku kembali memotong kalimat-kalimat panjangmu.

“Aku tidak berbicara apakah kau tahu media dan teknologi atau tidak. Aku berbicara tentang apakah kau bisa menggunakan sesuatu yang ‘dekat’ dan ‘familiar’ bagi siswa untuk kau jadikan media pembelajaranmu. Kau membuat websitemu sebagai sumber informasi online untuk materi-materimu, itu bagus. Tapi apa kau sadar kecendrungan siswa? Mari kita sebut, smartphone, social media, meme dan komik di Instagram, youtube. Mereka lebih condong ke semua itu dibanding sesuatu yang kita buat sendiri dan menyuruh mereka untuk akrab dengan itu. Kau lupa bahwa siswa kita memiliki dunianya sendiri, dibanding memaksa mereka keluar dari dunia mereka, kenapa tidak kita masuk dan menjadikan dunia mereka sebagai wadah untuk menyampaikan materi yang ingin kita ajarkan.”

“Salah satu kelemahan kita adalah bukan karena kita tidak tahu bahwa media pembelajaran itu ada, tetapi kita tidak paham untuk menggunakan media dan teknologi yang dekat dan familiar dengan peserta didik kita kawan. Gunakan apa yang mereka sukai, dan kau tidak perlu menghabiskan waktumu untuk membuat mediamu sendiri. Karena sebagai pengajar dan pendidik kita harus fleksibel dalam menggunakan media pembelajaran.” Kau diam sesaat, kemudian kembali meraih gelas yang masih setengah berisi, mencicipinya sedikit, lalu berdiri dan berjalan menuju api unggun yang sudah mulai mengecil.


“Tehku mulai dingin” katamu, kalimat yang menutup pembicaraan kita pagi itu. Dan aku kembali diam dan mencerna apa yang barusan kita bicarakan. Kita, pendidik yang salah memilih senjata. 
Share:

Sunday, December 31, 2017

Manusia Terpelajar dan Terdidik

Kita sering bertukar kata di hari-hari yang lalu Basineng. Di teras rumah yang terbuat dari kayu cempaka, dimana disetiap deritnya melepas aroma khas yang membuat pembicaraan kita menjadi sebuah kegiatan yang mampu membunuh waktu.

Kau pernah menyentil tentang bagaimana kau membagi manusia kedalam kelompok terpelajar, terdidik. Saat itu, aku berpikir semuanya sama saja, tak ada yang bisa kita jadikan pembeda untuk menyekat dua kata tersebut.

“Apakah kita berpikir tentang nilai atau makna dalam proses belajar, adalah sekat yang bisa kita jadikan landasan” Katamu singkat. Kau melihat sedikit sirat kebingungan diwajahku, mungkin terlihat dari kerutan didahiku ketika kau mulai mengucap kalimatmu.

“Maksudku, ketika kita berbicara tentang Pendidikan, variable yang terikat sangatlah banyak, Pendidikan bukah hanya tentang hasil, Pendidikan adalah proses sepanjang hayat, bukan dan tidak hanya berakhir diujung usia wajib belajar ataupun ketika kita sudah berhasil menggenggam ijazah” lanjutmu.

“Ketika kecil, aku selalu berpikir bahwa dengan mendapatkan nilai yang bagus dan menjadi juara kelas, aku bisa berguna bagi orang-orang disekitarku. Namun kemudian aku sadar bahwa, berbaur dengan komunitas yang lebih besar menuntutku untuk bisa memiliki lebih dari sekedar predikat juara kelas atau nilai tinggi disetiap mata pelajaran. Bahkan, banyak dari mereka yang berprestasi sama sekali tidak menjadi apa-apa didunia yang semakin menggila ini. Tapi, aku tidak sepenuhnya menghujat mereka yang fokus kepada nilai dan predikat, itu adalah salah satu variabel yang kita perlukan. Dan sekali lagi, ketika kita berbicara tentang Pendidikan, kita butuh lebih dari satu variable.” Kau bercerita panjang lebar Basineng. Sore yang sedikit berbeda dari sore-sore sebelumnya, dimana kau hanya akan diam dan menanggapi sedikit pertanyaanku.

Angin bertiup menembus sela-sela dinding rumah, membuat dinding tersebut seakan bersiul mengeluarkan suara nyaring bak suling raksasa dimana ada dua anak 15 tahun yang sedang duduk dan bersandar dikursi yang tersulam dari rotan. Bertukar kata sembari menikmati langit yang semakin menjingga diujung langit.

“Lalu, kata  terdidik dan terpelajar?” sambungku, ketika kau sudah kembali terdiam. Kau menoleh dan menjawab.

“Sudah banyak negara didunia modern yang mengetahui bahwa di dunia Pendidikan, khususnya sekolah telah banyak menghasilkan orag-orang yang secara teoritis sangat paham dengan kalimat-kalimat yang tertulis didalam buku, menyelesaikan soal-soal integral, mampu menyebutkan semua Bahasa latin hewan dan tumbuhan, tetapi gagap ketika menghadapai permasalahan yang tidak pernah mereka temukan di dalam buku. Mereka lalu mengubah cara mereka mengatur system sekolah untuk menjamin bahwa apa yang mereka hasilkan dari system yang kita sebut sekolah dapat menghasilkan orang-orang yang secara teoritis dan praktis dapat diandalkan. Tapi disini, kita masih terperangkap system lama, system kuno yang hanya bisa menghasilkan orang-orang pintar tidak bermoral, aku berkata seperti ini bukan untuk mengeneralisasi, aku hanya mengatakan bahwa masih banyak dari kita yang masih melihat Pendidikan dari sudut pandang lubang jarum” Sekali lagi kau terdiam beberapa lama.

“Lalu, kata  terdidik dan terpelajar?” tanyaku lagi, aku tidak tahu kenapa ada jeda yang begitu lama bagimu untuk menjelaskan dua kata tersbut.

“Kita perlu berubah, nilai dan makna adalah dua hal yang menurutku harus kita jadikan pondasi. Terpelajar ketika kita hanya sekedar tahu dan paham tentang sesuatu, terdidik ketika kita bisa memaknai apa yang kita tahu dan pahami, apa, kenapa, bagaimana. Setidaknya itu yang kemarin-kemarin aku percayai” jawabmu, yang bukannya membuatku paham dengan maksudmu, tetapi malah membuatku semakin bingung.

“Apa maksudmu dengan -Setidaknya itu yang kemarin-kemarin kau percaya-?” tanyaku. Kau lagi-lagi diam dan memberi jeda antara pertanyaanku dan penjelasanmu.

“Selama ini menjadi orang yang lebih dari sekedar terpelajar adalah keinginanku, aku ingin menjadi sosok terdidik yang bukan hanya paham tentang sesuatu, tapi juga bisa memahami untuk apa, kenapa, dan bagaimana sesuatu tersebut dapat menjadi sesuatu yang berguna. Tapi aku salah, masih ada satu variable yang ternyata luput.” Sinar oranye langit menyambut kalimatmu. Kau diam. Aku diam. Hanya suara celah dinding rumah yang tertiup angina yang terdengar.

“Aku lupa bahwa, sekedar tahu, paham, memaknai akan sesuatu belumlah cukup, ketika variable terampil tidak kita ikutkan dalam mata rantai Pendidikan dan proses pembelajaran. Terampil dam artian, setelah tahu, pahan dan memaknai akan sesuatu, aku bisa menciptakan hal-hal lain yang memiliki nilai guna yang lebih dari sesuatu tersebut.” Katamu,

Jingga langit sudah mulai menghitam. Kata-katamu masih terlalu berat untuk kucerna waktu itu. Aku pulang setelah menyelesaikan teh manis yang kau sajikan sebelum kita mulai berbicara. Aku pamit.

10 tahun setelahnya, aku kembali mengingat percakapan kita, aku kembali ingat akan kalimat-kalimat yang kau ucapkan disore itu. Ditapak langkahku yang sekarang, aku paham Basineng. Tentang proses belajar yang kau maksudkan. Yang kemudian membuatku kembali bingung adalah, bagaimana aku bisa memahamkan system yang sudah mandarah daging dikepala mereka-mereka yang menjalankan system tersebut. Kuharap kau bisa kembali bertemu denganmu dan berbicara lagi tentang topik yang sama, dan dengan solusi yang berbeda.


Share:

Tuesday, December 5, 2017

Baru tersadar!

Basineng, ada penyesalan yang sayup-sayup muncul dikepalaku. Bukan tentang rasa ataupun asa masa lalu yang tak pernah lagi bisa diulang. Ini tentang isi kepala yang sama-sama kita duduk didalamnya, sama-sama melihat betapa terbatasnya lembar-lembar yang bisa kita buka untuk bisa membuat suasana diskusi kita lebih hidup, lebih hidup dari sekedar basa-basi tentang nama, alamat, umur dan pekerjaan.

Kita sepertinya baru saja menyadari, bahwa hidup bukan sekedar ketakutan dan kepatuhan, bukan sekedar mengiyakan kepada mereka yang duduk di bangku strata yang lebih tinggi dari kita. Kita sepertinya baru saja menyadari bahwa bertindak berani dan diluar kebiasaan bukanlah sebuah kesalahan, apalagi dosa yang menjadikan kita seakan-akan kerdil dibanding yang lain. Patuh itu baik, menjadi sealiran dengan arus kebiasaan masyarakat bukanlah sesuatu yang buruk. Tapi, jika itu menjadikan kita seperti domba yang dengan mudahnya digiring, maka kita tak ayal adalah boneka yang tidak memiliki pemikiran sendiri.

Aku tahu kau sedikit malas untuk berbicara tentang hal-hal seperti ini Basineng. Tapi kita sepertinya perlu melangkah, bukan melawan arah ataupun berlainan arah, tapi melangkah sesuai dengan arah yang kita mau, sesuai dengan arah yang betul-betul menjadi tujuan yang kita inginkan. Bukan yang diinginkan oleh mereka yang memegang benang-benang sirkus dalam sistem tempat kita sekarang berdiri dan berbicara tentang topik kosong yang berisi basa basi tentang nama, alamat, umur dan pekerjaan. Kita perlu melangkah sedikit lebih berani.

Tapi sepertinya didalam sepuluh langkah pertama, kita tersadar, penyesalan lamat-lamat semakin terlihat jelas, menunjukkan bahwa buku dan lembaran-lembaran yang kita bawa tidak mampu membuat kita mengapung diantara lautan yang berisi banyak kebingungan. Sepertinya kita harus berhenti sejenak, jika perlu, berbalik arah. Bukan karena kita kemudian tak berdaya berdiri dan memijak pada kaki sendiri, tapi kita lupa bahwa melawan muslihat, kita juga perlu belajar banyak muslihat.

Basineng, kita punya tujuan baru. Kau sedikit tidak setuju, tapi kemudian sama sekali tak bersuara, karena kaupun tahu setidaknya mundur selangkah akan lebih baik untuk bisa maju beratus atau beribu langkah di kemudian hari. Kita harus belajar, lagi dan lagi.

Share:

Thursday, August 17, 2017

Variabel lain jarak dan waktu

Basineng, lamat-lamat ruangan dihadapanku semakin meluas, tadinya hangat, tadinya menenangkan. Namun waktu membuat jarak semakin menyayat. Aku ingat ketika kita belajar fisika, satu detik adalah ketika jam atom mencapai 9.192.631.770 hitungan. Dan seharusnya satu detik tidak selama ini, seharusnya. Tapi apakah waktu punya hitungannya sendiri ketika jarak menjadi variabel yang memisahkan antara kau dan segala bincang hangat kita disetiap sore lembayung? Aku tidak pernah paham Basineng, aku tidak pernah paham kapan waktu akan menjadi menyenangkan dengan segala ritme yang berdetak dan berganti tiap detiknya, dan kapan ia akan menjadi sangat menyesakkan dengan segala dentum derik alur waktu yang berganti. Aku tidak pernah paham Basineng. Apa mungkin aku terlalu banyak mengikuti bacaan tentang paham interpretivisme, dimana kebermaknaan adalah jawaban dari setiap pertanyaan yang kita ajukan?  Mungkin itu alasan kenapa terkadang penganut paham positivisme akan sulit memahami apa yang kita bicarakan disela-sela senyum tawa yang kita tukar satu sama lain, dalam selip bibir gelas teh, ditengah-tengah semilir angin sore.

Basineng, dulu aku sering berbasah-basahan ditengah deras guyur hujan, aku tak pernah mengeluh dingin. Tapi, entah karena waktu atau jarak, sekarang aku takut angin selatan, angin dingin yang membawa rinduku menjauh berlawanan arah. Dulu aku ingat sering ditengah-tengah riuh hutan kala malam, tak pernah sepi berani mengusikku, namun sekarang, kudapati diriku  terduduk dikeramaian tanpa tahu apa yang sedang kutakutkan.  Samar-samar ada kesan hangat yang begitu familiar, kesan hangat yang selau kucari dibalik kata-kata yang terangkai dalam alun-alun mimpi yang semakin jarang terlihat. Musim dingin Adelaide tersenyum sinis dikejauhan Basineng.

Aku juga ingat, ketika kita berdiskusi tentang jarak dan waktu, yang kita temukan adalah kecepatan, setidaknya itu yang dijelaskan dalam buku pelajaran fisika yang kita buka sesekali di jam istirahat. Tapi, disini aku menemukan hal lain yang bisa dijelaskan oleh jarak dan waktu. Variabel yang mungkin takkan bisa dipahami oleh beberapa orang, atau mungkin banyak orang. Variable yang membuat raga yang sehat bisa seketika lemah dan terpedaya, variabel yang menjadikan hangat desir angin menjadi sangat membekukan, variabel yang bahkan bisa membuatmu lupa perbedaan antara mean, modus, dan median, hal termudah yang bisa kau bedakan dimatakuliah statistika semester pertama. Kau mungkin akan tertawa jika kujelaskan tentang variabel itu Basineng, karena aku tahu kau sangat fanatik dengan paham positivisme, paham yang sangat lekat dengan pengalaman empirik, dan variabel yang sedang kuceritakan padamu sekarang adalah hal yang tidak bisa kau amati dengan indra. Aku sedang membicarakan rindu Basineng.

Share:

Thursday, April 20, 2017

Jingga Bukan Hanya Milik Senja (Musim Gugur di Adelaide)



Basineng, aku tahu kau penyuka jingga. Beberapa kali kudapati kau begitu senang menghabiskan waktu di pinggiran pantai memandangi rona bulat yang memendar jingga di ufuk barat. Aku ingin berbagi cerita denganmu tentang keindahan lain dari jingga yang begitu kau kagumi. Tapi bukan pendar oranye di ujung laut dan kaki langit yang ingin kuceritakan kali ini Basineng. Tapi lebih kepada musim gugur di kota Adelaide yang bukan hanya membawa desir angin dengan suhu mendekati belasan, namun juga keindahan  dedaun yang mulai mengering dan jatuh berguguran. Kau bisa melihat diantara banyak dedaun yang berguguran, berbaris puluhan pohon yang memendar jingga dengan daunnya. Memberikan kesan hangat diantara dinginnya suhu dipertengahan musim gugur.

Ini adalah musim gugur pertamaku Basineng, musim gugur yang memberi kesan tenang dan hangat. Ditambah lagi dua minggu semester break menjadikan musim gugur menjadi lebih mengasyikkan. Dua minggu liburan yang cocok untuk menikmati musim semi di Adelaide. Ada beberapa pilihan lokasi Basineng, namun, ada dua pilihan yang menjadi destinasi paling banyak dikunjungi oleh masyarakat disini, Mount Lofty dan Hahndorf. Keduanya menyajikan nuansa hangat yang menjajikan kepuasan mata untuk memandang keindahan pepohonan yang mulai menguning maupun merona oranye.

Mount Lofty berjarak 15 km arah timur Adelaide, bias ditempuh dengan menggunakan Bus ataupun kendaraan pribadi, tapi jika ingin menggunakan kendaraan pribadi, kusarankan atur waktu sebaik-baiknya karena tempat parkir seringkali menjadi masalah. Atau jika kalian ingin menikmati suasana Mount Lofty tanpa takut tidak mendapatkan tempat parkir, menggunakan bus adalah pilihan yang paling baik. Kita bisa menggunakan bus 864F atau 860F dari City, lalu turun di stop 24A Zone Crafers Park N Ride, lalu jalan sekitar 1 menit ke stop 24 A Zone A Crafers Park N Ride dan melanjutkan perjalanan menuju stop 30B Piccadilly Rd North West Side. Dari sini kita masih perlu berjalan sekitar 1.3 km (+ 19 menit). Perjalanan panjang yang akan terbayar dengan keindahan Mount Lofty.

Hahndorf adalah destinasi yang tidak kalah menariknya dari Mount Lofty. Jika Mount Lofty menyajikan pemandangan asri dari sebuah botanical garden, maka Handorf menyajikan suasana perkampungan masyarakat Eropa tempo dulu yang dikolaborasikan dengan gaya Australia. Hahndorf merupakan Kampung imigran Jerman tertua di Australia yang terletak sejauh 28 km dari Adelaide, dan merupakan salah satu tourism spot yang penting di Adelaide. Untuk sampai ke Hahndorf, kita bisa menggunakan bus 860F, 841F, T840, atau 840X. Untuk durasi perjalanan 60 menit, maka sebaiknya kita menggunalan Bus 860F atau 841F, dan turun di stop 55 Mt Barker Rd-East Side. Sedangkan bus T840 dan 840X akan memakan waktu lebih banyak sekitar 80-100 menit karena kita masih harus turun di bus stop 64 Hutchinson St-West Side, lalu melanjutkan perjalanan ke stop 54A Mt Barker Rd menggunaan Bus 864. Tempat yang mengagumkan selalu dimulai dengan perjalanan yang panjang, Basineng.



Aku harap, setelah membaca kisah ini, kau bisa paham Basineng, bahwa keindahan yang disajikan oleh pendar oranye bukan hanya tentang senja dan lembayungnya, tapi juga dari sisi lain bukit yang dipenuhi oleh dedaun yang mulai mengering. Sampai ketemu lagi dikisah berikutnya Basineng.
Share:

Sunday, March 19, 2017

Mengenal Transportasi Adelaide

Perjalanan keluar dari kampung halaman adalah sesuatu yang seru untuk diceritakan Basineng, melihat hal-hal baru yang belum pernah kita dapatkan sebelumnya, melihat gedung-gedung menawan yang tidak pernah kita temui. Sekalipun itu hanya perjalanan menuju ibu kota provinsi, untuk bocah yang usianya baru saja menginjak 8 tahun, seperti kita, adalah cerita menyenangkan untuk dibagi. Aku ingat pernah menceritakan kepadamu, bagaimana aku mengunjungi Makassar bersama nenek, ibu kota provinsi yang berjarak 4 jam perjalanan dari kampung kita, Malakaji. Perjalanan yang melelahkan menggunakan mobil kijang tua dimana kursi yang seharusnya hanya muat empat orang dengan ajaibnya bisa dijejali sebanyak lima atau enam orang. Bau solar kadang membuat beberapa orang tak lagi mampu untuk menahan mual, belum lagi penumpang perokok yang tidak peduli dengan asap rokok yang ia kepulkan didalam mobil yang penuh sesak, atau kakek-kakek tua yang membawa tembakau kering dalam karung terapit dibawah kedua lengannya menambah jenis bau yang harus kami hirup selama perjalanan. Aku selalu merajuk untuk dibiarkan duduk dekat dengan jendela, bukan karena aneka ragam bau dimobil Basineng, aku bisa tahan dengan itu, aku hanya suka dengan angin yang menyapa ketika kukeluarkan tanganku dari jendela mobil.

Perjalanan yang penuh dengan bebauan itu kemudian berlanjut menggunakan bus yang dulu lebih sering disebut DAMRI, nama perusahaan yang lebih dikenal sebagai jenis transportasi, bukti nyata majas metonomia kurasa. Paling tidak, disini suasana lebih menyenangkan, hiburan bukan lagi tape recorder yang mengulang-ulang lagu yang sama selama 4 jam perjalanan, penjual asongan dan pengamen jalanan mampu menjadi hiburan tersendiri di atas bus, dan yang lebih menyenangkannya, nenek membeli banyak cemilan.
Itu kisah yang kuceritakan padamu lebih dari satu dekade yang lalu, sekarang aku akan bercerita tentang perjalananku yang lain Basineng, perjalan yang sama sekali tidak menawarkan bebauan asap rokok, tembakau kering dan solar yang menusuk hidung. Kali ini perjalananku berbeda. Adelaide, di kota yang dikenal sebagai kota festival ini aku sering bepergian, ada banyak destinasi yang bisa kudatangi, destinasi yang menawarkan eksotisme pantai dan senja dipenghujung hari, ataupun keindahan hutan dan ladang anggur yang menghijau. Tapi, kali ini aku tidak akan bercerita banyak tentang tempat-tempat fantastis tersebut Basineng, aku akan menceritakannya dilain waktu, kali ini aku ingin bercerita tentang sarana transportasi yang sering kugunakan untuk mengunjungi lokasi-lokasi tersebut.

Basineng, di Adelaide, orang-orang lebih condong untuk menggunakan sarana transportasi umum, baik itu kereta, trem, atau bis. Selain karena disini biaya parkir untuk kendaraan roda empat tergolong mahal, pemerintah juga betul-betul serius dalam menyediakan dan mengatur layanan transportasi publik. Pemerintah kota Adelaide menjalankan sistem transportasi yang disebut Adelaide Metro, untuk layanan transportasi seputar Adelaide dan Connect SA untuk layanan bus regional.  Sistem ini dibawahi Divisi Public Transport Services dari Department of Planning, Transport and Infrastructure yang merupakan upaya untuk memfasilitasi kebutuhan masyarakat akan layanan transportasi yang baik dan terjangkau. Ada banyak kemudahan yang dibuat untuk membuat kita nyaman dalam menggunakan sarana transportasi publik, akan kujelaskan padamu satu persatu Basineng, dan semoga kau tidak alergi membaca penjelasanku yang terlampau deskriptif.

Akan kumulai dengan bagaimana kita membayar sarana trasnportasi disini Basineng. Ada dua  opsi yang disediakan oleh system Adelaide Metro dalam hal membayar sarana transportasi,  dengan metroticket atau metrocard. Metroticket merupakan tiket berbentuk kertas yang digunakan jangka pendek, sedangkan metrocard adalah tiket berbentuk kartu yang digunakan untuk jangka panjang. Perbedaan mendasar dari keduanya bukan hanya dari bentuk dan bahannya, namun juga penetapan harganya. Menggunakan metrocard jauh lebih murah dibandingkan menggunakan metroticket. Selain itu kau harus tahu kapan peak travel time dan interpeak travel time, karena perbedaan harga dikedua waktu tersebut juga lumayan berbeda. Agak memusingkan Basineng? Jangan khawatir, untuk lebih sederhananya kau bisa lihat gambar berikut, digambar tersebut kau bisa tahu perbedaannya.




Basineng, aku pribadi menggunakan metrocard, murah soalnya. Tapi, ku sarankan jika suatu saat kau juga punya kesempatan untuk bertandang ke kota festival ini dan ingin menggunakan metrocard, kau harus tahu terlebih dahulu jenis metrocard apa yang harus kau ambil. Metrocard ada empat jenis Basineng, regular, concession, students, dan seniors. Metrocard regular diperuntukkan bagi mereka yang berusia diatas 15 tahun dan tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan concession fare, atau lebih sederhananya orang-orang yang tidak memenuhi syarat untuk diberi subsidi. Metrocard Concession diperuntukkan bagi mereka yang berstatus full time tertiary dan post secondary students, jadi jika kau datang dengan status mahasiswa disini, kartu ini yang harus kau ambil, tapi ingat kauu harus selalu membawa student ID mu sebagai bukti jika tiba-tiba ada pemeriksaan metrocard, mereka secara seringkali melakukannya secara acak Basineng. Dan jangan pernah coba-coba untuk menggunkan metrocard concession orang lain untuk bepergian Basineng, ketika kedapatan, fine disini lumayan mencekik kantong. Kemudian metrocard students diperuntukkan bagi primary dan secondary school students  atau sekitar umur 5 sampai 14 tahun. Dan yang terakhir, seniors card yang merupakan kartu bagi permanent resident yang telah berumur 60 tahun atau lebih dan tidak lagi bekerja lebih dari 20 jam kerja.

Dan untuk membeli kartu tersebut kau bisa langsung datang ke kantor Adelaide Metro atau mengunjungi Post, dengan harga $5 untuk regular, $ 3.5 untuk concession dan students. Ketika pertama kali membeli, otomatis kau akan memiliki balance sebanyak $5, setelah itu terserah kau Basineng mau mengisi berapa. Cara pengisiannya pun kau bisa memilih mulai dari $15, $20, $30, $40, $60, $90, $120, dan $140, atau jika memang kau ingin sepuas-puasnya bepergian disini kau bisa menggunakan paket 28 day-pass, jika menggunakan paket ini maka kau memiliki akses yang tidak terbatas dalam menggunakan bis, trem, ataupun kereta selama 28 hari. Relatif sangat murah jika memang kau ingin banyak berpegian selama disini.

Harga paket 28-day pass

Sepertinnya aku sudah bercerita sangat panjang Basineng, masih banyak yang ingin kuceritakan padamu tentang transportasi disini, tapi sepertinya kantuk lebih mendominasi. Sebaiknya aku melanjutkan ceritaku nanti, kau mungkin masih belum tahu bagaimana mereka mengatur rupa bis, trem, dan kereta disini, pada kondisi apa kita bisa menggunakan bus dan trem dengan gratis di area city, dan bagimana kondisi lalu lintas disini Basineng. Tenang saja, akan kuceritakan dikesempatan lainnya. Semoga kau senang membaca ceritaku Basineng, akan kujumpai kau diparagraf-paragraf panjang berikutnya.



Share:

Saturday, March 18, 2017

Kekaguman yang Kurahasiakan



Basieng, bagaimana kabar musim penghujan disana? Pagi ini aku membayangkan petrichor di ujung tanah-tanah basah yang setelah beberapa minggu kutinggalkan masih memberikan kesan yang kuat di indraku. Dan tentang kabarmu aku harap kau sedang dalam kondisi terbaikmu sekarang, karena sangat sulit untuk sekedar mendapatkan balasan cerita darimu, entah karena mungkin kau tidak menerima semua cerita yang kutujukan padamu, atau kau sedang diam-diam tidak ingin bercerita tentang sesuatu apapun kepadaku.
Aku sangat ingat bahwa dulu menulis tentang kekagumanku terhadap seorang gadis adalah hal yang mengasyikkan, membuat candu, memacu serotonin dalam otakku mengalir dengan lancarnya. Namun entah kenapa, semakin lama aku berada pada realita bahwa apa yang kukagumi kini telah berada dalam pelukanku, aku semakin enggan untuk menulis tentangnya. Ini bukan tentang rasa bosan atau tentang rasa penasaran yang kian memudar ketika kau telah paham dan mahfum tentang segala seluk beluk kekagumanmu terhadap sesuatu Basineng. Hanya saja, sekarang aku sadar bahwa aku menjadi semakin kikir untuk berbagi bahwa betapa bahagianya aku memiliki apa yang dulunya hanya bisa kukagumi. Aku semakin ingin menikmati segala sesuatunya pada batas diriku, dia dan tempat kami berada untuk saling berbagi cerita ataupun tawa. Aku tak ingin membaginya.
Dia sosok sempurna dibalik semua kekurangannya, sosok yang kuat dibalik banyak kelemahannya, sosok yang tenang dibalik panjang kalimat-kalimatnya. Aku bahkan tak pernah membayangkan akan mendapatkan keberuntungan yang begitu besar, yang jika ingin ditukar dengan delapan kehidupan lainnya, tak akan pernah mau untuk kutukar. Dia kekaguman yang biasa-biasa saja, namun mampu menjadikan hal yang biasa yang dia miliki menjadi luar biasa dimataku. Hal yang biasa-biasa itu menjadi kelebihan paling besar yang ia miliki, menurutku.
Dan tahukah kau Basineng, belum tuntas aku menyelesaikan kekagumanku padanya, kini ia memberikan lagi satu kekaguman baru kepadaku. Kekaguman yang mampu membuat perjalananku untuk kembali ketanah perantauan menjadi sangat berat, menjadi berkali-kali beratnya. Tanah rantau yang pada waktu dulu adalah tempat yang paling ingin kujejaki, sekarang menjadi tempat yang paling berat untuk kudatangi karena menghadirkan jarak antara dekapku dan kekaguman baruku itu.  Aku akhirnya paham bagaimana caranya rasa mampu membuat seseorang yang sangat kuat menjadi begitu lemah bersimpuh. Kekaguman itu membuatku makin hidup, sekaligus mati karena berada disisi yang lain dari ruang yang sering kami habiskan bersama, walaupun kebersamaan itu hanya merujuk pada kondisi ia sedang tertidur dan aku duduk sembari tersenyum memandanginya. Kala itu, aku melihat malaikat pada kekagumanku yang baru, malaikat yang selalu berdiskusi panjang denganku saat malam dengan tangisnya, malaikat yang selalu bermain denganku dengan gerak mungilnya.
Basineng, rasa-rasanya akan panjang cerita yang kubagi denganmu, tapi aku paham kau masih punya banyak hal yang ingin kau selesaikan. Biarlah ceritaku kututup sampai disini,  cerita datar tanpa klimaks yang hanya berisi ungkapan kekaguman pada sosok-sosok yang mungkin tidak kau kenal. Karena sekalipun kau tidak pernah bertemu dengan mereka, aku pernah mengundangmu untuk hadir kerumahku, tapi kau tidak pernah datang, kamu selalu sibuk sepertinya. Dan semoga kau juga segera mendapatkan kekaguman yang mampu membuatmu paham bahwa rasa selalu punya sejuta cara untuk membuatmu tak berdaya.


Share:

Monday, March 13, 2017

Mereka Masih Tawuran, Basineng


Basineng, ini kali pertama aku bercerita dua kali dalam sehari kepadamu, semoga kau tidak keberatan mendengarkan. Aku tadi mendapat kabar dari universitas tempatku dulu menempuh pendidikan dijenjang strata satu. Sebuah kabar yang sebenarnya tidak asing lagi, bahkan selama berkuliah disana aku beberapa kali melihat langsung, tawuran. Tapi entah kenapa kabar kali ini membuatku ingin bercerita kepadamu. Aku hanya sedikit kasihan Basineng, di lingkungan universitas yang seyogyanya tempat orang-orang maha terpelajar berada, berulang kali terjadi tawuran karena hal-hal yang terkadang menurutku sangat abu-abu.

Aku sedikitpun tidak pernah paham, terkadang ketika mendengarkan cerita-cerita dari pelaku yang turun langsung, kebanyakan mereka ikut tawuran hanya karena ikut-ikutan, beberapa bahkan tidak tahu menahu sama sekali alasan dibalik kenapa mereka harus ikut. Ada yang dengan bangga bercerita sembari tertawa puas, seakan-akan tawuran adalah tradisi sakral yang harus dilestarikan, ada pula yang dengan gaya bicara retorik menjelaskan panjang lebar tentang kesolidan dan kesetiakawanan adalah alasan mereka ikut tawuran, kesetiakawanan tidak sebrutal itu menurutku. Aku bahkan pernah berpikir Basineng, kalau memang mereka mau, kenapa tidak mengadakan kompetisi gulat, tinju, atau kompetisi lain yang bisa menyalurkan hasrat mereka untuk tawuran dengan lebih gentle, lebih masuk akal dibandingkan prosesi saling lempar batu dan saling mencaci dari jarak jauh, yang ketika kubu yang satu maju, yang lain mundur, kemudian maju dan mundur lagi, bukankah lucu Basineng, merasa jagoan tapi tidak pernah berani untuk berhadapan satu lawan satu secara langsung.

Aku tak tahu Basineng, sampai kapan aksi jago-jagoan ini akan terus berlanjut, tapi disaat kondisi-kondisi seperti ini terus berlanjut, para pelakunya mungkin belum sadar bahwa dunia semakin cepat berputar meninggalkan mereka. Ketika teman-teman mereka yang lain tengah berjuang untuk mempersiapkan bekal di dunia pasca kuliah, mereka masih ongkang-ongkang kaki menikmati masa mereka dikampus, yang terkadang beberapa dari mereka harus puas dengan status D.O. Andai mereka sadar bahwa tenaga dan pikiran mereka sangat dibutuhkan untuk membantu segala kemelut dan ketertinggalan yang terjadi di kota ataupun bangsa ini, bahwa kita harus berbenah banyak untuk mengejar ketertinggalan kita dari bangsa lain.

Basineng, walaupun begitu, aku tak bisa sepenuhnya mengutuk, karena aku percaya bahwa banyak diantara mereka yang sebenarnya punya banyak potensi, hanya saja, mungkin belum bisa mereka gali. Mari kita berdoa, semoga mereka-mereka bisa secepatnya menyadarai bahwa dunia mereka di kampus sekarang ini adalah dunia sempit yang seharusnya menjadi tempat mereka mengumpulkan bekal. Dunia diluar sana, jauh lebih ganas, yang jika dihadapi tanpa bekal yang mumpuni hanya akan menjadikan mereka sebagai tawanan peradaban, mengikut pada yang kaya, menjilat pada yang berkuasa. Mari mendoakan mereka Basineng.

***

Gambar : Google.com
Share:

Bagi yang takut dianggap lebay dalam merasa dan merindu, Adelaide.


Basineng, tempo hari aku dan beberapa teman sempat berdiskusi panjang tentang rindu. Sebuah topik melankolik yang sedang dirasakan oleh beberapa teman yang sedang jauh dari orang yang mereka kasihi, salah satu hal besar yang harus dihadapai oleh pelajar perantau seperti kami. Disalah satu waktu dalam percakapan itulah kemudian selalu terulang satu kata yang sama tiap kali mereka mulai mengekspresikan rasa rindu yang mereka alami, "lebay". Aku tidak pernah cocok dengan kata ini Basineng, kata urban yang menurutku tidak pernah akurat dalam mendefinisikan apa yang sedang ingin kita jelaskan, terlebih lagi jika menyangkut rasa dan rindu. Kata lebay menjadi momok, mendegradasi keinginan sesorang untuk mengekspresikan apa yang mereka rasakan, kata lebay adalah sebuah penyakit dalam tatanan Bahasa, menurutku.

Basineng, jika lebay adalah sebuah kata yang mewakili sikap berlebihan dalam mengekspresikan rasa, mungkin saja ia cocok dalam beberapa kondisi, namun nyata penggunaannya tidak seperti itu. Bahkan sedikit menunjukkan sisi melankolik sudah dianggap sebagai perbuatan yang lebay. Bahkan dalam beberapa kasus, menjadi melankolis adalah asosiasi paling dekat dengan kata lebay dan dianggap sebagai sebuah sikap yang aneh. Bukannya sangat berlebihan Basineng? Pun ketika kata lebay memang merupakan kata yang menjelaskan tentang sebuah sikap lemah lembut nan melankolis dalam berekspresi dan bersikap, maka seharusnya ia tak menjadi sebuah bentuk keanehan, ataupun anomaly yang dianggap tidak standar dalam sebuah tatanan bersikap.

Sisi melankolik adalah bagian yang tak terpisahkan dari diri kita sebagai manusia Basineng, kenapa kebanyakan ia menjadi sebuah aib dan menbuat orang-orang menjadi enggan untuk menunjukkan sisi tersebut? Bukannya menghilangkan sisi tersebut sama saja dengan memberi cacat pada ruang ekspresi kita? Apa begitu pentingnya anggapan kebanyakan orang dibanding keutuhan ruang ekspresi kita Basineng? Apakah menjadi apa adanya adalah sebuah kesalahan dimasa sekarang ini?

Jika mengekspresikan rasa dan rindu dalam kalimat mendayu adalah sebuah bentuk lebay, maka biarlah kita dianggap lebay Basineng. Dianggap lebay tak akan semenyakitkan menahan buncah rindu yang tertahan, atau menahan luapan rasa yang bertumpuk, yang paling tidak akan sedikit berkurang jika kita mengeluarkannya dalam bentuk ekspresi ataupun tulisan Basineng.

Basineng, jangan sampai apa yang orang lain katakana menjadikanmu gagap dalam berekspresi. Menjadi melankolis bukanlah sebuah kejahatan, yang sekali lagi jika dianggap sebagai definisi lain dari kata lebay, maka biarkanlah mereka berkata sesukanya. Mungkin saja mereka belum tahu bagaimana rasa dan rindu menyekap mereka, atau mungkin saja mereka sedang berpura-pura karena  belum tahu cara mengekspresikannya dan malu untuk bertanya.
Share:

Thursday, February 16, 2017

Kita Terpecah Bukan Karena Agama


"Berhenti menyalahkan agama dan ras sebagai akar perpecahan, kita hanya bodoh kawan, itu yang menjadi masalah sebenarnya."

Aku teringat percakapan kita beberapa hari yang lalu, Basineng. Kita duduk ditempat yang sama, sofa cokelat sepanjang dua meter dengan bantalan empuk yang mampu menopang manja pungung siapapun yang bersandar, disisi depan terdapat meja dimana teh, kue kering dan lembaran surat kabar tertata dengan tidak rapi. Kau masih mengunyah kue kering campuran dari jahe, gula merah dan kelapa yang disanggrai, dipadu sedimikian rupa hingga menghasilkan tekstur yang padat namun tidak begitu keras untuk dikunyah. Layar lebar 21 inchi menjadi titik fokus kau dan aku melihat apa yang tergambar disana, suasa riuh ricuh demonstrasi, propaganda, serta berita-berita beracun, tercampur menjadi satu.

"Apa masyarakat sudah semakin lupa cara menerima perbedaan Basineng? Sehingga agama menjadi sebuah momok, perbedaan etnis menjadi sebuah permasalahan yang kemudian berkaitan atau lebih tepatnya dikait-kaitkan dengan lusinan masalah lainnya yang jika dipikir dengan lebih mendalam sama sekali tidak punya keterkaitan apapun. Perbedaan tidak lagi dilihat sebagai sebuah keniscayaan dalam proses hidup berdampingan" aku bertanya tanpa berpaling melihatmu.

Kau tersenyum, lalu melanjutkan kunyahanmu. Tidak menggubris pertanyaanku.

"Kenapa kita tidak bisa saling menerima?" lanjutku, bertanya tanpa peduli apa kau memperhatikan atau tidak. "Mereka dengan mudahnya terpengaruh hasutan-hasutan yang berisi kepentingan beberapa orang, hasutan yang menurutku tidak pernah sedikitpun mewakili kebaikan banyak orang, hasutan yang tidak pernah merekatkan, justru malah meregangkan pertalian sosial masyarakat."

Kau masih sibuk dengan kunyahanmu.

"Agama dan etnis menjadi tombak perang dalam memenangkan kepentingan segilintir orang, membuat mereka yang tidak paham apa-apa menjadi terlibat dan menggila, membuat mereka yang tadinya berdampingan menjadi orang-orang yang saling mencaci satu sama lain. Padahal aku tak melihat sedikitpun kebaikan dari apa yang mereka lakukan, hanya kebanggaan yang meroket karena sudah merasa membela apa yang mereka yakini." Lanjutku.

"Kenapa kita harus terpecah karena perbedaan ras dan agama?" Ucapku kemudian, sebelum kau akhirnya menoleh dan menyelesaikan kunyahanmu.

"Kita terpecah bukan karena agama atupun ras kawan." Katamu,

"Kita terpecah karena kita bodoh!" lanjutmu. Kau melihat dahiku sedikit berkernyit, menangkap sebuah sinyal bahwa aku sedikit tidak setuju dengan kalimat terakhirmu.

"Kita bodoh kawan, sehingga mudah terpecah, bukan karena agama ataupun ras. Kita bodoh karena kita sudah merasa telah mengetahui segala sesuatu hanya dengan membaca sepotong-sepotong artikel di media sosial yang entah oleh siapa diviralkan tanpa tahu benar tidaknya berita tersebut. Kita punya kebiasaan asal kunyah berita, tanpa tahu memilih dan memilah berita mana yang punya kadar valid yang betul-betul terpercaya. Kita bodoh karena kita sudah merasa mengenali agama orang lain hanya karena opini-opini yang dilemparkan oleh orang yang belum tentu punya kredibilitas untuk menilai agama, yang jangan-jangan mereka juga sama sekali tak paham dengan agama mereka sendiri, jika mereka punya. Kita bodoh karena dengan mudahnya mengeneralkan perilaku satu orang etnis tertentu sebagai  perilaku universal etnis tersebut." kau berbicara panjang menanggapi semua pertanyaan yang tadi kulontarkan.

"Kau memihak siapa?" tanyaku lagi setelah yakin bahwa kau sudah selesai dengan kalimatmu.

"Kawan, berbicara tentang memihak, aku tak ingin memihak secara brutal, memihak secara buta. Agamaku dihina, aku tidak terima. Sekecil-kecilnya iman yang ada didiriku, aku tak senang jika ada orang yang tidak paham dengan agamaku, dengan seenaknya menghina. Tapi, aku juga tidak bisa dengan serta merta mengatakan bahwa semua orang dengan etnis yang sama dengan orang yang menghina agamaku adalah sama. Bukankah itu juga sama saja dengan mengatakan bahwa terorisme tertuju pada satu agama tertentu saja. Aku suka melihat banyak saudara-saudaraku yang bersatu, merapatkan barisan untuk membela apa yang mereka yakini. Tapi segala sesuatu dengan kadar berlebih bukannya tidak baik, kawan? Kembali ke pokok pembicaraan awal kita, kita terpecah bukan karena ras dan agama. Kita terpecah karena kita malas untuk menelaah dan betul-betul memahami secara mendalam isu, kasus, fenomena, yang terpampang dihadapan kita setiap harinya. Kita tidak bisa serta merta mengaitkan satu hal buruk dengan semua hal-hal yang muncul kemudian, karena bukankah ketika kita melihat sesuatu dengan kacamata yang berdebu maka apapun yang kita lihat akan selalu kotor?" kau melanjutkan lagi kalimatmu dengan sama panjangnya dengan kalimat sebelumnya.

"Berhenti menyalahkan agama dan ras sebagai akar perpecahan, kita hanya bodoh kawan, itu yang menjadi masalah sebenarnya." kalimat yang kau lontarkan sebagai penutup perbincangan kita hari itu. Kau kembali sibuk dengan kue jahe, menyeruput teh dan menonton berita yang masih memunculkan polemik-polemik yang terjadi di negara kita. 
Share:

Tuesday, February 14, 2017

Kesimpulan


Basineng, kebanyakan dari kita, sayapun mungkin terkadang, selalu terlalu cepat mengambil kesimpulan tentang apa yang secara sekilas terlihat. Kemarin aku berjalan-jalan ke sebuah festival pendidikan tengah kota, melihat interaksi, antara mereka yang senang untuk berbagi pengalaman serta pengetahuan dengan mereka yang senang untuk belajar banyak. Diantara banyak hiruk pikuk di festival itu, aku tertarik mengamati dua orang beda usia yang sedang bercakap di bangku permanen yang terbuat dari semen. Satunya terlihat lebih tua dengan tampilan kasual yang terkesan sangat santai, satunya lagi anak muda dengan usia yang mungkin masih pertengahan dua puluhan, berpakaian dengan lebih rapi, memakai jas dengan rambut klimis dan kacamata ala anak muda kekinian.
Kudengar mereka berbicara tentang politik, tentang interaksi sosial bermasyarakat, tentang tata krama, tentang adat ketimuran. Si anak muda selalu beretorika dengan mantap dengan sesekali dalam kalimatnya terselip kata asing, literally, basicly, which is, dan lain-lain. Sedangkan Si Tua berbicara dengan lebih santai, logat lokal yang natural, tanpa embel-embel istilah-istilah keren.
Tapi Basineng, Setelah ikut menyimak, perhatianku lebih tertuju pada kata-kata si Tua. Kata-kata sederhana namun mencerminkan betapa dalam pengetahuan dan matangnya pengalaman yang dia telah lewati, begitu mudahnya saya memahami apa yang dia katakan, runut dan langsung ke pokok permasalahan. Sebaliknya, aku tidak begitu paham dengan apa yang dikatakan oleh si Anak muda, terlalu retorik, terlalu banyak embel-embel yang tidak perlu untuk dikatakan, selipan-selipan bahasa asing kadang berlebihan, aku sama sekali tidak merasa mendapatkan informasi dalam kalimat-kalimatnya selain cara berbicaranya yang mirip motivator ditelevisi.
Sementara mereka berdua berbincang, datang beberapa anak remaja umur lima belasan, taksirku. Mereka datang sambil menyalami kedua orang yang tadinya tengah berdiskusi. Tapi, ada yang kulihat begitu kontras, ketika si Tua menolak untuk disalami dengan cara yang berlebihan, si anak muda menyodorkan tangannya untuk disalami dengan cara yang mewah. Ketika si Tua menolak dipanggil dengan sebutan guru, si Anak muda ingin dipanggil guru.
Ketika anak-anak remaja umur lima belasan tersebut berbicara, si Tua mendengarkan dengan sabar tak menyela sampai akhir, namun si Anak muda sedikit berbeda, setiap kali dia merasa tidak setuju, dia lansung memotong pembicaraan, dan menyisipi kalimat-kalimatnya pada Cerita anak-anak tersebut. 
Basineng, aku belajar banyak melihat interaksi mereka, pertama, mewah tidaknya balutan pakaian ataupun bagus tidaknya retorika, tidak pernah bisa menjadi alat ukur valid tentang taraf keilmuan seseorang. Kedua, aku akhirnya tahu bagaimana menilai orang yang betul-betul berilmu, dan orang yang seakan-akan punya banyak ilmu. Kalau suatu saat aku berprilaku seperti si Anak muda, ingatkan aku Basineng, bahwa sederhana dalam bersikap dan bertutur, tidak haus kehormatan adalah sikap bagi mereka yang berilmu.
Share: