Tuesday, December 5, 2017

Baru tersadar!

Basineng, ada penyesalan yang sayup-sayup muncul dikepalaku. Bukan tentang rasa ataupun asa masa lalu yang tak pernah lagi bisa diulang. Ini tentang isi kepala yang sama-sama kita duduk didalamnya, sama-sama melihat betapa terbatasnya lembar-lembar yang bisa kita buka untuk bisa membuat suasana diskusi kita lebih hidup, lebih hidup dari sekedar basa-basi tentang nama, alamat, umur dan pekerjaan.

Kita sepertinya baru saja menyadari, bahwa hidup bukan sekedar ketakutan dan kepatuhan, bukan sekedar mengiyakan kepada mereka yang duduk di bangku strata yang lebih tinggi dari kita. Kita sepertinya baru saja menyadari bahwa bertindak berani dan diluar kebiasaan bukanlah sebuah kesalahan, apalagi dosa yang menjadikan kita seakan-akan kerdil dibanding yang lain. Patuh itu baik, menjadi sealiran dengan arus kebiasaan masyarakat bukanlah sesuatu yang buruk. Tapi, jika itu menjadikan kita seperti domba yang dengan mudahnya digiring, maka kita tak ayal adalah boneka yang tidak memiliki pemikiran sendiri.

Aku tahu kau sedikit malas untuk berbicara tentang hal-hal seperti ini Basineng. Tapi kita sepertinya perlu melangkah, bukan melawan arah ataupun berlainan arah, tapi melangkah sesuai dengan arah yang kita mau, sesuai dengan arah yang betul-betul menjadi tujuan yang kita inginkan. Bukan yang diinginkan oleh mereka yang memegang benang-benang sirkus dalam sistem tempat kita sekarang berdiri dan berbicara tentang topik kosong yang berisi basa basi tentang nama, alamat, umur dan pekerjaan. Kita perlu melangkah sedikit lebih berani.

Tapi sepertinya didalam sepuluh langkah pertama, kita tersadar, penyesalan lamat-lamat semakin terlihat jelas, menunjukkan bahwa buku dan lembaran-lembaran yang kita bawa tidak mampu membuat kita mengapung diantara lautan yang berisi banyak kebingungan. Sepertinya kita harus berhenti sejenak, jika perlu, berbalik arah. Bukan karena kita kemudian tak berdaya berdiri dan memijak pada kaki sendiri, tapi kita lupa bahwa melawan muslihat, kita juga perlu belajar banyak muslihat.

Basineng, kita punya tujuan baru. Kau sedikit tidak setuju, tapi kemudian sama sekali tak bersuara, karena kaupun tahu setidaknya mundur selangkah akan lebih baik untuk bisa maju beratus atau beribu langkah di kemudian hari. Kita harus belajar, lagi dan lagi.

Share:

Thursday, August 17, 2017

Variabel lain jarak dan waktu

Basineng, lamat-lamat ruangan dihadapanku semakin meluas, tadinya hangat, tadinya menenangkan. Namun waktu membuat jarak semakin menyayat. Aku ingat ketika kita belajar fisika, satu detik adalah ketika jam atom mencapai 9.192.631.770 hitungan. Dan seharusnya satu detik tidak selama ini, seharusnya. Tapi apakah waktu punya hitungannya sendiri ketika jarak menjadi variabel yang memisahkan antara kau dan segala bincang hangat kita disetiap sore lembayung? Aku tidak pernah paham Basineng, aku tidak pernah paham kapan waktu akan menjadi menyenangkan dengan segala ritme yang berdetak dan berganti tiap detiknya, dan kapan ia akan menjadi sangat menyesakkan dengan segala dentum derik alur waktu yang berganti. Aku tidak pernah paham Basineng. Apa mungkin aku terlalu banyak mengikuti bacaan tentang paham interpretivisme, dimana kebermaknaan adalah jawaban dari setiap pertanyaan yang kita ajukan?  Mungkin itu alasan kenapa terkadang penganut paham positivisme akan sulit memahami apa yang kita bicarakan disela-sela senyum tawa yang kita tukar satu sama lain, dalam selip bibir gelas teh, ditengah-tengah semilir angin sore.

Basineng, dulu aku sering berbasah-basahan ditengah deras guyur hujan, aku tak pernah mengeluh dingin. Tapi, entah karena waktu atau jarak, sekarang aku takut angin selatan, angin dingin yang membawa rinduku menjauh berlawanan arah. Dulu aku ingat sering ditengah-tengah riuh hutan kala malam, tak pernah sepi berani mengusikku, namun sekarang, kudapati diriku  terduduk dikeramaian tanpa tahu apa yang sedang kutakutkan.  Samar-samar ada kesan hangat yang begitu familiar, kesan hangat yang selau kucari dibalik kata-kata yang terangkai dalam alun-alun mimpi yang semakin jarang terlihat. Musim dingin Adelaide tersenyum sinis dikejauhan Basineng.

Aku juga ingat, ketika kita berdiskusi tentang jarak dan waktu, yang kita temukan adalah kecepatan, setidaknya itu yang dijelaskan dalam buku pelajaran fisika yang kita buka sesekali di jam istirahat. Tapi, disini aku menemukan hal lain yang bisa dijelaskan oleh jarak dan waktu. Variabel yang mungkin takkan bisa dipahami oleh beberapa orang, atau mungkin banyak orang. Variable yang membuat raga yang sehat bisa seketika lemah dan terpedaya, variabel yang menjadikan hangat desir angin menjadi sangat membekukan, variabel yang bahkan bisa membuatmu lupa perbedaan antara mean, modus, dan median, hal termudah yang bisa kau bedakan dimatakuliah statistika semester pertama. Kau mungkin akan tertawa jika kujelaskan tentang variabel itu Basineng, karena aku tahu kau sangat fanatik dengan paham positivisme, paham yang sangat lekat dengan pengalaman empirik, dan variabel yang sedang kuceritakan padamu sekarang adalah hal yang tidak bisa kau amati dengan indra. Aku sedang membicarakan rindu Basineng.

Share:

Thursday, April 20, 2017

Jingga Bukan Hanya Milik Senja (Musim Gugur di Adelaide)



Basineng, aku tahu kau penyuka jingga. Beberapa kali kudapati kau begitu senang menghabiskan waktu di pinggiran pantai memandangi rona bulat yang memendar jingga di ufuk barat. Aku ingin berbagi cerita denganmu tentang keindahan lain dari jingga yang begitu kau kagumi. Tapi bukan pendar oranye di ujung laut dan kaki langit yang ingin kuceritakan kali ini Basineng. Tapi lebih kepada musim gugur di kota Adelaide yang bukan hanya membawa desir angin dengan suhu mendekati belasan, namun juga keindahan  dedaun yang mulai mengering dan jatuh berguguran. Kau bisa melihat diantara banyak dedaun yang berguguran, berbaris puluhan pohon yang memendar jingga dengan daunnya. Memberikan kesan hangat diantara dinginnya suhu dipertengahan musim gugur.

Ini adalah musim gugur pertamaku Basineng, musim gugur yang memberi kesan tenang dan hangat. Ditambah lagi dua minggu semester break menjadikan musim gugur menjadi lebih mengasyikkan. Dua minggu liburan yang cocok untuk menikmati musim semi di Adelaide. Ada beberapa pilihan lokasi Basineng, namun, ada dua pilihan yang menjadi destinasi paling banyak dikunjungi oleh masyarakat disini, Mount Lofty dan Hahndorf. Keduanya menyajikan nuansa hangat yang menjajikan kepuasan mata untuk memandang keindahan pepohonan yang mulai menguning maupun merona oranye.

Mount Lofty berjarak 15 km arah timur Adelaide, bias ditempuh dengan menggunakan Bus ataupun kendaraan pribadi, tapi jika ingin menggunakan kendaraan pribadi, kusarankan atur waktu sebaik-baiknya karena tempat parkir seringkali menjadi masalah. Atau jika kalian ingin menikmati suasana Mount Lofty tanpa takut tidak mendapatkan tempat parkir, menggunakan bus adalah pilihan yang paling baik. Kita bisa menggunakan bus 864F atau 860F dari City, lalu turun di stop 24A Zone Crafers Park N Ride, lalu jalan sekitar 1 menit ke stop 24 A Zone A Crafers Park N Ride dan melanjutkan perjalanan menuju stop 30B Piccadilly Rd North West Side. Dari sini kita masih perlu berjalan sekitar 1.3 km (+ 19 menit). Perjalanan panjang yang akan terbayar dengan keindahan Mount Lofty.

Hahndorf adalah destinasi yang tidak kalah menariknya dari Mount Lofty. Jika Mount Lofty menyajikan pemandangan asri dari sebuah botanical garden, maka Handorf menyajikan suasana perkampungan masyarakat Eropa tempo dulu yang dikolaborasikan dengan gaya Australia. Hahndorf merupakan Kampung imigran Jerman tertua di Australia yang terletak sejauh 28 km dari Adelaide, dan merupakan salah satu tourism spot yang penting di Adelaide. Untuk sampai ke Hahndorf, kita bisa menggunakan bus 860F, 841F, T840, atau 840X. Untuk durasi perjalanan 60 menit, maka sebaiknya kita menggunalan Bus 860F atau 841F, dan turun di stop 55 Mt Barker Rd-East Side. Sedangkan bus T840 dan 840X akan memakan waktu lebih banyak sekitar 80-100 menit karena kita masih harus turun di bus stop 64 Hutchinson St-West Side, lalu melanjutkan perjalanan ke stop 54A Mt Barker Rd menggunaan Bus 864. Tempat yang mengagumkan selalu dimulai dengan perjalanan yang panjang, Basineng.



Aku harap, setelah membaca kisah ini, kau bisa paham Basineng, bahwa keindahan yang disajikan oleh pendar oranye bukan hanya tentang senja dan lembayungnya, tapi juga dari sisi lain bukit yang dipenuhi oleh dedaun yang mulai mengering. Sampai ketemu lagi dikisah berikutnya Basineng.
Share:

Sunday, March 19, 2017

Mengenal Transportasi Adelaide

Perjalanan keluar dari kampung halaman adalah sesuatu yang seru untuk diceritakan Basineng, melihat hal-hal baru yang belum pernah kita dapatkan sebelumnya, melihat gedung-gedung menawan yang tidak pernah kita temui. Sekalipun itu hanya perjalanan menuju ibu kota provinsi, untuk bocah yang usianya baru saja menginjak 8 tahun, seperti kita, adalah cerita menyenangkan untuk dibagi. Aku ingat pernah menceritakan kepadamu, bagaimana aku mengunjungi Makassar bersama nenek, ibu kota provinsi yang berjarak 4 jam perjalanan dari kampung kita, Malakaji. Perjalanan yang melelahkan menggunakan mobil kijang tua dimana kursi yang seharusnya hanya muat empat orang dengan ajaibnya bisa dijejali sebanyak lima atau enam orang. Bau solar kadang membuat beberapa orang tak lagi mampu untuk menahan mual, belum lagi penumpang perokok yang tidak peduli dengan asap rokok yang ia kepulkan didalam mobil yang penuh sesak, atau kakek-kakek tua yang membawa tembakau kering dalam karung terapit dibawah kedua lengannya menambah jenis bau yang harus kami hirup selama perjalanan. Aku selalu merajuk untuk dibiarkan duduk dekat dengan jendela, bukan karena aneka ragam bau dimobil Basineng, aku bisa tahan dengan itu, aku hanya suka dengan angin yang menyapa ketika kukeluarkan tanganku dari jendela mobil.

Perjalanan yang penuh dengan bebauan itu kemudian berlanjut menggunakan bus yang dulu lebih sering disebut DAMRI, nama perusahaan yang lebih dikenal sebagai jenis transportasi, bukti nyata majas metonomia kurasa. Paling tidak, disini suasana lebih menyenangkan, hiburan bukan lagi tape recorder yang mengulang-ulang lagu yang sama selama 4 jam perjalanan, penjual asongan dan pengamen jalanan mampu menjadi hiburan tersendiri di atas bus, dan yang lebih menyenangkannya, nenek membeli banyak cemilan.
Itu kisah yang kuceritakan padamu lebih dari satu dekade yang lalu, sekarang aku akan bercerita tentang perjalananku yang lain Basineng, perjalan yang sama sekali tidak menawarkan bebauan asap rokok, tembakau kering dan solar yang menusuk hidung. Kali ini perjalananku berbeda. Adelaide, di kota yang dikenal sebagai kota festival ini aku sering bepergian, ada banyak destinasi yang bisa kudatangi, destinasi yang menawarkan eksotisme pantai dan senja dipenghujung hari, ataupun keindahan hutan dan ladang anggur yang menghijau. Tapi, kali ini aku tidak akan bercerita banyak tentang tempat-tempat fantastis tersebut Basineng, aku akan menceritakannya dilain waktu, kali ini aku ingin bercerita tentang sarana transportasi yang sering kugunakan untuk mengunjungi lokasi-lokasi tersebut.

Basineng, di Adelaide, orang-orang lebih condong untuk menggunakan sarana transportasi umum, baik itu kereta, trem, atau bis. Selain karena disini biaya parkir untuk kendaraan roda empat tergolong mahal, pemerintah juga betul-betul serius dalam menyediakan dan mengatur layanan transportasi publik. Pemerintah kota Adelaide menjalankan sistem transportasi yang disebut Adelaide Metro, untuk layanan transportasi seputar Adelaide dan Connect SA untuk layanan bus regional.  Sistem ini dibawahi Divisi Public Transport Services dari Department of Planning, Transport and Infrastructure yang merupakan upaya untuk memfasilitasi kebutuhan masyarakat akan layanan transportasi yang baik dan terjangkau. Ada banyak kemudahan yang dibuat untuk membuat kita nyaman dalam menggunakan sarana transportasi publik, akan kujelaskan padamu satu persatu Basineng, dan semoga kau tidak alergi membaca penjelasanku yang terlampau deskriptif.

Akan kumulai dengan bagaimana kita membayar sarana trasnportasi disini Basineng. Ada dua  opsi yang disediakan oleh system Adelaide Metro dalam hal membayar sarana transportasi,  dengan metroticket atau metrocard. Metroticket merupakan tiket berbentuk kertas yang digunakan jangka pendek, sedangkan metrocard adalah tiket berbentuk kartu yang digunakan untuk jangka panjang. Perbedaan mendasar dari keduanya bukan hanya dari bentuk dan bahannya, namun juga penetapan harganya. Menggunakan metrocard jauh lebih murah dibandingkan menggunakan metroticket. Selain itu kau harus tahu kapan peak travel time dan interpeak travel time, karena perbedaan harga dikedua waktu tersebut juga lumayan berbeda. Agak memusingkan Basineng? Jangan khawatir, untuk lebih sederhananya kau bisa lihat gambar berikut, digambar tersebut kau bisa tahu perbedaannya.




Basineng, aku pribadi menggunakan metrocard, murah soalnya. Tapi, ku sarankan jika suatu saat kau juga punya kesempatan untuk bertandang ke kota festival ini dan ingin menggunakan metrocard, kau harus tahu terlebih dahulu jenis metrocard apa yang harus kau ambil. Metrocard ada empat jenis Basineng, regular, concession, students, dan seniors. Metrocard regular diperuntukkan bagi mereka yang berusia diatas 15 tahun dan tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan concession fare, atau lebih sederhananya orang-orang yang tidak memenuhi syarat untuk diberi subsidi. Metrocard Concession diperuntukkan bagi mereka yang berstatus full time tertiary dan post secondary students, jadi jika kau datang dengan status mahasiswa disini, kartu ini yang harus kau ambil, tapi ingat kauu harus selalu membawa student ID mu sebagai bukti jika tiba-tiba ada pemeriksaan metrocard, mereka secara seringkali melakukannya secara acak Basineng. Dan jangan pernah coba-coba untuk menggunkan metrocard concession orang lain untuk bepergian Basineng, ketika kedapatan, fine disini lumayan mencekik kantong. Kemudian metrocard students diperuntukkan bagi primary dan secondary school students  atau sekitar umur 5 sampai 14 tahun. Dan yang terakhir, seniors card yang merupakan kartu bagi permanent resident yang telah berumur 60 tahun atau lebih dan tidak lagi bekerja lebih dari 20 jam kerja.

Dan untuk membeli kartu tersebut kau bisa langsung datang ke kantor Adelaide Metro atau mengunjungi Post, dengan harga $5 untuk regular, $ 3.5 untuk concession dan students. Ketika pertama kali membeli, otomatis kau akan memiliki balance sebanyak $5, setelah itu terserah kau Basineng mau mengisi berapa. Cara pengisiannya pun kau bisa memilih mulai dari $15, $20, $30, $40, $60, $90, $120, dan $140, atau jika memang kau ingin sepuas-puasnya bepergian disini kau bisa menggunakan paket 28 day-pass, jika menggunakan paket ini maka kau memiliki akses yang tidak terbatas dalam menggunakan bis, trem, ataupun kereta selama 28 hari. Relatif sangat murah jika memang kau ingin banyak berpegian selama disini.

Harga paket 28-day pass

Sepertinnya aku sudah bercerita sangat panjang Basineng, masih banyak yang ingin kuceritakan padamu tentang transportasi disini, tapi sepertinya kantuk lebih mendominasi. Sebaiknya aku melanjutkan ceritaku nanti, kau mungkin masih belum tahu bagaimana mereka mengatur rupa bis, trem, dan kereta disini, pada kondisi apa kita bisa menggunakan bus dan trem dengan gratis di area city, dan bagimana kondisi lalu lintas disini Basineng. Tenang saja, akan kuceritakan dikesempatan lainnya. Semoga kau senang membaca ceritaku Basineng, akan kujumpai kau diparagraf-paragraf panjang berikutnya.



Share:

Saturday, March 18, 2017

Kekaguman yang Kurahasiakan



Basieng, bagaimana kabar musim penghujan disana? Pagi ini aku membayangkan petrichor di ujung tanah-tanah basah yang setelah beberapa minggu kutinggalkan masih memberikan kesan yang kuat di indraku. Dan tentang kabarmu aku harap kau sedang dalam kondisi terbaikmu sekarang, karena sangat sulit untuk sekedar mendapatkan balasan cerita darimu, entah karena mungkin kau tidak menerima semua cerita yang kutujukan padamu, atau kau sedang diam-diam tidak ingin bercerita tentang sesuatu apapun kepadaku.
Aku sangat ingat bahwa dulu menulis tentang kekagumanku terhadap seorang gadis adalah hal yang mengasyikkan, membuat candu, memacu serotonin dalam otakku mengalir dengan lancarnya. Namun entah kenapa, semakin lama aku berada pada realita bahwa apa yang kukagumi kini telah berada dalam pelukanku, aku semakin enggan untuk menulis tentangnya. Ini bukan tentang rasa bosan atau tentang rasa penasaran yang kian memudar ketika kau telah paham dan mahfum tentang segala seluk beluk kekagumanmu terhadap sesuatu Basineng. Hanya saja, sekarang aku sadar bahwa aku menjadi semakin kikir untuk berbagi bahwa betapa bahagianya aku memiliki apa yang dulunya hanya bisa kukagumi. Aku semakin ingin menikmati segala sesuatunya pada batas diriku, dia dan tempat kami berada untuk saling berbagi cerita ataupun tawa. Aku tak ingin membaginya.
Dia sosok sempurna dibalik semua kekurangannya, sosok yang kuat dibalik banyak kelemahannya, sosok yang tenang dibalik panjang kalimat-kalimatnya. Aku bahkan tak pernah membayangkan akan mendapatkan keberuntungan yang begitu besar, yang jika ingin ditukar dengan delapan kehidupan lainnya, tak akan pernah mau untuk kutukar. Dia kekaguman yang biasa-biasa saja, namun mampu menjadikan hal yang biasa yang dia miliki menjadi luar biasa dimataku. Hal yang biasa-biasa itu menjadi kelebihan paling besar yang ia miliki, menurutku.
Dan tahukah kau Basineng, belum tuntas aku menyelesaikan kekagumanku padanya, kini ia memberikan lagi satu kekaguman baru kepadaku. Kekaguman yang mampu membuat perjalananku untuk kembali ketanah perantauan menjadi sangat berat, menjadi berkali-kali beratnya. Tanah rantau yang pada waktu dulu adalah tempat yang paling ingin kujejaki, sekarang menjadi tempat yang paling berat untuk kudatangi karena menghadirkan jarak antara dekapku dan kekaguman baruku itu.  Aku akhirnya paham bagaimana caranya rasa mampu membuat seseorang yang sangat kuat menjadi begitu lemah bersimpuh. Kekaguman itu membuatku makin hidup, sekaligus mati karena berada disisi yang lain dari ruang yang sering kami habiskan bersama, walaupun kebersamaan itu hanya merujuk pada kondisi ia sedang tertidur dan aku duduk sembari tersenyum memandanginya. Kala itu, aku melihat malaikat pada kekagumanku yang baru, malaikat yang selalu berdiskusi panjang denganku saat malam dengan tangisnya, malaikat yang selalu bermain denganku dengan gerak mungilnya.
Basineng, rasa-rasanya akan panjang cerita yang kubagi denganmu, tapi aku paham kau masih punya banyak hal yang ingin kau selesaikan. Biarlah ceritaku kututup sampai disini,  cerita datar tanpa klimaks yang hanya berisi ungkapan kekaguman pada sosok-sosok yang mungkin tidak kau kenal. Karena sekalipun kau tidak pernah bertemu dengan mereka, aku pernah mengundangmu untuk hadir kerumahku, tapi kau tidak pernah datang, kamu selalu sibuk sepertinya. Dan semoga kau juga segera mendapatkan kekaguman yang mampu membuatmu paham bahwa rasa selalu punya sejuta cara untuk membuatmu tak berdaya.


Share:

Monday, March 13, 2017

Mereka Masih Tawuran, Basineng


Basineng, ini kali pertama aku bercerita dua kali dalam sehari kepadamu, semoga kau tidak keberatan mendengarkan. Aku tadi mendapat kabar dari universitas tempatku dulu menempuh pendidikan dijenjang strata satu. Sebuah kabar yang sebenarnya tidak asing lagi, bahkan selama berkuliah disana aku beberapa kali melihat langsung, tawuran. Tapi entah kenapa kabar kali ini membuatku ingin bercerita kepadamu. Aku hanya sedikit kasihan Basineng, di lingkungan universitas yang seyogyanya tempat orang-orang maha terpelajar berada, berulang kali terjadi tawuran karena hal-hal yang terkadang menurutku sangat abu-abu.

Aku sedikitpun tidak pernah paham, terkadang ketika mendengarkan cerita-cerita dari pelaku yang turun langsung, kebanyakan mereka ikut tawuran hanya karena ikut-ikutan, beberapa bahkan tidak tahu menahu sama sekali alasan dibalik kenapa mereka harus ikut. Ada yang dengan bangga bercerita sembari tertawa puas, seakan-akan tawuran adalah tradisi sakral yang harus dilestarikan, ada pula yang dengan gaya bicara retorik menjelaskan panjang lebar tentang kesolidan dan kesetiakawanan adalah alasan mereka ikut tawuran, kesetiakawanan tidak sebrutal itu menurutku. Aku bahkan pernah berpikir Basineng, kalau memang mereka mau, kenapa tidak mengadakan kompetisi gulat, tinju, atau kompetisi lain yang bisa menyalurkan hasrat mereka untuk tawuran dengan lebih gentle, lebih masuk akal dibandingkan prosesi saling lempar batu dan saling mencaci dari jarak jauh, yang ketika kubu yang satu maju, yang lain mundur, kemudian maju dan mundur lagi, bukankah lucu Basineng, merasa jagoan tapi tidak pernah berani untuk berhadapan satu lawan satu secara langsung.

Aku tak tahu Basineng, sampai kapan aksi jago-jagoan ini akan terus berlanjut, tapi disaat kondisi-kondisi seperti ini terus berlanjut, para pelakunya mungkin belum sadar bahwa dunia semakin cepat berputar meninggalkan mereka. Ketika teman-teman mereka yang lain tengah berjuang untuk mempersiapkan bekal di dunia pasca kuliah, mereka masih ongkang-ongkang kaki menikmati masa mereka dikampus, yang terkadang beberapa dari mereka harus puas dengan status D.O. Andai mereka sadar bahwa tenaga dan pikiran mereka sangat dibutuhkan untuk membantu segala kemelut dan ketertinggalan yang terjadi di kota ataupun bangsa ini, bahwa kita harus berbenah banyak untuk mengejar ketertinggalan kita dari bangsa lain.

Basineng, walaupun begitu, aku tak bisa sepenuhnya mengutuk, karena aku percaya bahwa banyak diantara mereka yang sebenarnya punya banyak potensi, hanya saja, mungkin belum bisa mereka gali. Mari kita berdoa, semoga mereka-mereka bisa secepatnya menyadarai bahwa dunia mereka di kampus sekarang ini adalah dunia sempit yang seharusnya menjadi tempat mereka mengumpulkan bekal. Dunia diluar sana, jauh lebih ganas, yang jika dihadapi tanpa bekal yang mumpuni hanya akan menjadikan mereka sebagai tawanan peradaban, mengikut pada yang kaya, menjilat pada yang berkuasa. Mari mendoakan mereka Basineng.

***

Gambar : Google.com
Share:

Bagi yang takut dianggap lebay dalam merasa dan merindu, Adelaide.


Basineng, tempo hari aku dan beberapa teman sempat berdiskusi panjang tentang rindu. Sebuah topik melankolik yang sedang dirasakan oleh beberapa teman yang sedang jauh dari orang yang mereka kasihi, salah satu hal besar yang harus dihadapai oleh pelajar perantau seperti kami. Disalah satu waktu dalam percakapan itulah kemudian selalu terulang satu kata yang sama tiap kali mereka mulai mengekspresikan rasa rindu yang mereka alami, "lebay". Aku tidak pernah cocok dengan kata ini Basineng, kata urban yang menurutku tidak pernah akurat dalam mendefinisikan apa yang sedang ingin kita jelaskan, terlebih lagi jika menyangkut rasa dan rindu. Kata lebay menjadi momok, mendegradasi keinginan sesorang untuk mengekspresikan apa yang mereka rasakan, kata lebay adalah sebuah penyakit dalam tatanan Bahasa, menurutku.

Basineng, jika lebay adalah sebuah kata yang mewakili sikap berlebihan dalam mengekspresikan rasa, mungkin saja ia cocok dalam beberapa kondisi, namun nyata penggunaannya tidak seperti itu. Bahkan sedikit menunjukkan sisi melankolik sudah dianggap sebagai perbuatan yang lebay. Bahkan dalam beberapa kasus, menjadi melankolis adalah asosiasi paling dekat dengan kata lebay dan dianggap sebagai sebuah sikap yang aneh. Bukannya sangat berlebihan Basineng? Pun ketika kata lebay memang merupakan kata yang menjelaskan tentang sebuah sikap lemah lembut nan melankolis dalam berekspresi dan bersikap, maka seharusnya ia tak menjadi sebuah bentuk keanehan, ataupun anomaly yang dianggap tidak standar dalam sebuah tatanan bersikap.

Sisi melankolik adalah bagian yang tak terpisahkan dari diri kita sebagai manusia Basineng, kenapa kebanyakan ia menjadi sebuah aib dan menbuat orang-orang menjadi enggan untuk menunjukkan sisi tersebut? Bukannya menghilangkan sisi tersebut sama saja dengan memberi cacat pada ruang ekspresi kita? Apa begitu pentingnya anggapan kebanyakan orang dibanding keutuhan ruang ekspresi kita Basineng? Apakah menjadi apa adanya adalah sebuah kesalahan dimasa sekarang ini?

Jika mengekspresikan rasa dan rindu dalam kalimat mendayu adalah sebuah bentuk lebay, maka biarlah kita dianggap lebay Basineng. Dianggap lebay tak akan semenyakitkan menahan buncah rindu yang tertahan, atau menahan luapan rasa yang bertumpuk, yang paling tidak akan sedikit berkurang jika kita mengeluarkannya dalam bentuk ekspresi ataupun tulisan Basineng.

Basineng, jangan sampai apa yang orang lain katakana menjadikanmu gagap dalam berekspresi. Menjadi melankolis bukanlah sebuah kejahatan, yang sekali lagi jika dianggap sebagai definisi lain dari kata lebay, maka biarkanlah mereka berkata sesukanya. Mungkin saja mereka belum tahu bagaimana rasa dan rindu menyekap mereka, atau mungkin saja mereka sedang berpura-pura karena  belum tahu cara mengekspresikannya dan malu untuk bertanya.
Share:

Thursday, February 16, 2017

Kita Terpecah Bukan Karena Agama


"Berhenti menyalahkan agama dan ras sebagai akar perpecahan, kita hanya bodoh kawan, itu yang menjadi masalah sebenarnya."

Aku teringat percakapan kita beberapa hari yang lalu, Basineng. Kita duduk ditempat yang sama, sofa cokelat sepanjang dua meter dengan bantalan empuk yang mampu menopang manja pungung siapapun yang bersandar, disisi depan terdapat meja dimana teh, kue kering dan lembaran surat kabar tertata dengan tidak rapi. Kau masih mengunyah kue kering campuran dari jahe, gula merah dan kelapa yang disanggrai, dipadu sedimikian rupa hingga menghasilkan tekstur yang padat namun tidak begitu keras untuk dikunyah. Layar lebar 21 inchi menjadi titik fokus kau dan aku melihat apa yang tergambar disana, suasa riuh ricuh demonstrasi, propaganda, serta berita-berita beracun, tercampur menjadi satu.

"Apa masyarakat sudah semakin lupa cara menerima perbedaan Basineng? Sehingga agama menjadi sebuah momok, perbedaan etnis menjadi sebuah permasalahan yang kemudian berkaitan atau lebih tepatnya dikait-kaitkan dengan lusinan masalah lainnya yang jika dipikir dengan lebih mendalam sama sekali tidak punya keterkaitan apapun. Perbedaan tidak lagi dilihat sebagai sebuah keniscayaan dalam proses hidup berdampingan" aku bertanya tanpa berpaling melihatmu.

Kau tersenyum, lalu melanjutkan kunyahanmu. Tidak menggubris pertanyaanku.

"Kenapa kita tidak bisa saling menerima?" lanjutku, bertanya tanpa peduli apa kau memperhatikan atau tidak. "Mereka dengan mudahnya terpengaruh hasutan-hasutan yang berisi kepentingan beberapa orang, hasutan yang menurutku tidak pernah sedikitpun mewakili kebaikan banyak orang, hasutan yang tidak pernah merekatkan, justru malah meregangkan pertalian sosial masyarakat."

Kau masih sibuk dengan kunyahanmu.

"Agama dan etnis menjadi tombak perang dalam memenangkan kepentingan segilintir orang, membuat mereka yang tidak paham apa-apa menjadi terlibat dan menggila, membuat mereka yang tadinya berdampingan menjadi orang-orang yang saling mencaci satu sama lain. Padahal aku tak melihat sedikitpun kebaikan dari apa yang mereka lakukan, hanya kebanggaan yang meroket karena sudah merasa membela apa yang mereka yakini." Lanjutku.

"Kenapa kita harus terpecah karena perbedaan ras dan agama?" Ucapku kemudian, sebelum kau akhirnya menoleh dan menyelesaikan kunyahanmu.

"Kita terpecah bukan karena agama atupun ras kawan." Katamu,

"Kita terpecah karena kita bodoh!" lanjutmu. Kau melihat dahiku sedikit berkernyit, menangkap sebuah sinyal bahwa aku sedikit tidak setuju dengan kalimat terakhirmu.

"Kita bodoh kawan, sehingga mudah terpecah, bukan karena agama ataupun ras. Kita bodoh karena kita sudah merasa telah mengetahui segala sesuatu hanya dengan membaca sepotong-sepotong artikel di media sosial yang entah oleh siapa diviralkan tanpa tahu benar tidaknya berita tersebut. Kita punya kebiasaan asal kunyah berita, tanpa tahu memilih dan memilah berita mana yang punya kadar valid yang betul-betul terpercaya. Kita bodoh karena kita sudah merasa mengenali agama orang lain hanya karena opini-opini yang dilemparkan oleh orang yang belum tentu punya kredibilitas untuk menilai agama, yang jangan-jangan mereka juga sama sekali tak paham dengan agama mereka sendiri, jika mereka punya. Kita bodoh karena dengan mudahnya mengeneralkan perilaku satu orang etnis tertentu sebagai  perilaku universal etnis tersebut." kau berbicara panjang menanggapi semua pertanyaan yang tadi kulontarkan.

"Kau memihak siapa?" tanyaku lagi setelah yakin bahwa kau sudah selesai dengan kalimatmu.

"Kawan, berbicara tentang memihak, aku tak ingin memihak secara brutal, memihak secara buta. Agamaku dihina, aku tidak terima. Sekecil-kecilnya iman yang ada didiriku, aku tak senang jika ada orang yang tidak paham dengan agamaku, dengan seenaknya menghina. Tapi, aku juga tidak bisa dengan serta merta mengatakan bahwa semua orang dengan etnis yang sama dengan orang yang menghina agamaku adalah sama. Bukankah itu juga sama saja dengan mengatakan bahwa terorisme tertuju pada satu agama tertentu saja. Aku suka melihat banyak saudara-saudaraku yang bersatu, merapatkan barisan untuk membela apa yang mereka yakini. Tapi segala sesuatu dengan kadar berlebih bukannya tidak baik, kawan? Kembali ke pokok pembicaraan awal kita, kita terpecah bukan karena ras dan agama. Kita terpecah karena kita malas untuk menelaah dan betul-betul memahami secara mendalam isu, kasus, fenomena, yang terpampang dihadapan kita setiap harinya. Kita tidak bisa serta merta mengaitkan satu hal buruk dengan semua hal-hal yang muncul kemudian, karena bukankah ketika kita melihat sesuatu dengan kacamata yang berdebu maka apapun yang kita lihat akan selalu kotor?" kau melanjutkan lagi kalimatmu dengan sama panjangnya dengan kalimat sebelumnya.

"Berhenti menyalahkan agama dan ras sebagai akar perpecahan, kita hanya bodoh kawan, itu yang menjadi masalah sebenarnya." kalimat yang kau lontarkan sebagai penutup perbincangan kita hari itu. Kau kembali sibuk dengan kue jahe, menyeruput teh dan menonton berita yang masih memunculkan polemik-polemik yang terjadi di negara kita. 
Share:

Tuesday, February 14, 2017

Kesimpulan


Basineng, kebanyakan dari kita, sayapun mungkin terkadang, selalu terlalu cepat mengambil kesimpulan tentang apa yang secara sekilas terlihat. Kemarin aku berjalan-jalan ke sebuah festival pendidikan tengah kota, melihat interaksi, antara mereka yang senang untuk berbagi pengalaman serta pengetahuan dengan mereka yang senang untuk belajar banyak. Diantara banyak hiruk pikuk di festival itu, aku tertarik mengamati dua orang beda usia yang sedang bercakap di bangku permanen yang terbuat dari semen. Satunya terlihat lebih tua dengan tampilan kasual yang terkesan sangat santai, satunya lagi anak muda dengan usia yang mungkin masih pertengahan dua puluhan, berpakaian dengan lebih rapi, memakai jas dengan rambut klimis dan kacamata ala anak muda kekinian.
Kudengar mereka berbicara tentang politik, tentang interaksi sosial bermasyarakat, tentang tata krama, tentang adat ketimuran. Si anak muda selalu beretorika dengan mantap dengan sesekali dalam kalimatnya terselip kata asing, literally, basicly, which is, dan lain-lain. Sedangkan Si Tua berbicara dengan lebih santai, logat lokal yang natural, tanpa embel-embel istilah-istilah keren.
Tapi Basineng, Setelah ikut menyimak, perhatianku lebih tertuju pada kata-kata si Tua. Kata-kata sederhana namun mencerminkan betapa dalam pengetahuan dan matangnya pengalaman yang dia telah lewati, begitu mudahnya saya memahami apa yang dia katakan, runut dan langsung ke pokok permasalahan. Sebaliknya, aku tidak begitu paham dengan apa yang dikatakan oleh si Anak muda, terlalu retorik, terlalu banyak embel-embel yang tidak perlu untuk dikatakan, selipan-selipan bahasa asing kadang berlebihan, aku sama sekali tidak merasa mendapatkan informasi dalam kalimat-kalimatnya selain cara berbicaranya yang mirip motivator ditelevisi.
Sementara mereka berdua berbincang, datang beberapa anak remaja umur lima belasan, taksirku. Mereka datang sambil menyalami kedua orang yang tadinya tengah berdiskusi. Tapi, ada yang kulihat begitu kontras, ketika si Tua menolak untuk disalami dengan cara yang berlebihan, si anak muda menyodorkan tangannya untuk disalami dengan cara yang mewah. Ketika si Tua menolak dipanggil dengan sebutan guru, si Anak muda ingin dipanggil guru.
Ketika anak-anak remaja umur lima belasan tersebut berbicara, si Tua mendengarkan dengan sabar tak menyela sampai akhir, namun si Anak muda sedikit berbeda, setiap kali dia merasa tidak setuju, dia lansung memotong pembicaraan, dan menyisipi kalimat-kalimatnya pada Cerita anak-anak tersebut. 
Basineng, aku belajar banyak melihat interaksi mereka, pertama, mewah tidaknya balutan pakaian ataupun bagus tidaknya retorika, tidak pernah bisa menjadi alat ukur valid tentang taraf keilmuan seseorang. Kedua, aku akhirnya tahu bagaimana menilai orang yang betul-betul berilmu, dan orang yang seakan-akan punya banyak ilmu. Kalau suatu saat aku berprilaku seperti si Anak muda, ingatkan aku Basineng, bahwa sederhana dalam bersikap dan bertutur, tidak haus kehormatan adalah sikap bagi mereka yang berilmu.
Share:

Friday, February 3, 2017

Dunia dalam Layar


“Basineng, berhentilah menggerutu tentang polemik bangsa.” Tegurku disuatu sore basah, hujan tak henti-hentinya tumpah dari langit, ditambah angin yang senantiasa mengawal tiap tetes hujan, seolah menjamin agar ia jatuh lebih cepat dan lebih keras dari biasanya.

“Lalu aku harus abai?” Ucapmu,

“Bukan, aku cuma memintamu untuk berhenti menggerutu, toh, kau tidak membuat keadaan lebih baik dengan menggerutu.” Jawabku sembari menyusun buku-buku yang semenjak kemarin berserakan seolah tak bertuan.

“Terlalu rumit, penuh paradoks, seperti benang kusut yang tak mampu diurai.” Lanjutmu sambil membantuku memunguti satu persatu buku dilantai.

“Tak ada kusut yang tak bisa terurai Basineng, cuma, waktu yang dibutuhkan mungkin lebih panjang” kataku lagi.

“Aku pesimis.” Jawabmu singkat.

“Tentang?” 

“Orang-orang baik disekitar kita.” 

“Kau keliru jika menggeneralkan segala sesuatu dan hanya bertumpu pada satu kejadian. Generalisasi suatu pola tidak sedangkal itu. Realitamu tertutupi oleh banyak berita-berita hoax disekitarmu. Padahal, kita punya banyak orang-orang yang baik dan peduli dengan bangsa ini” Ucapku.

“Kau hanya perlu melihat dunia lebih luas, lebih dari sekedar membacanya lewat media sosial, tempat dimana kebohongan dan kebenaran bercampur jadi satu dan susah untuk dipisahkan.” Lanjutku begitu melihat ekspresimu yang seperti kurang sepakat dengan yang sebelumnya kukatakan.
“Ya, dunia lebih baik jika kau melihatnya langsung, bukan sekedar dari layar laptop atau hpmu Basineng.” Aku menutup pembicaraan kita, buku-buku masih belum rapi tersusun.
Share:

Wednesday, February 1, 2017

Dosa Era Modern


"Kenapa menjadi tidak berpihak adalah sebuah dosa, Basineng?" Tanyaku.

"Kau butuh sekutu didunia yang sudah semakin menggila ini, dan berpihak adalah salah satu mata rantai yang bisa membuatmu tetap berada pada peredaran siklus sosial bermasyarakat, tak berpihak berarti kau telah memutuskan mata rantai itu, kau menjadi orang asing yang terasing, meski sesuku, seagama, sebangsa, berpihak sekarang adalah sebuah kemutlakan." Jawabmu dengan masih meletakkan jemarimu pada laptop, mencoba menyelesaikan tugas sekolah yang kemarin-kemarin terus kau tunda. Kau menyalahkan cuaca, musim penghujan membuat orang-orang malas katamu, dingin terlalu baik untuk dilewatkan dengan hal-hal serius seperti tugas dan urusan sekolah. Hujan, menurutmu, adalah hal indah yang lebih cocok dilewatkan dengan teh dan kue kering sisa lembaran sebulan lalu.

"Tapi dengan tidak berpihak pada siapapun, aku sebenarnya sudah berpihak pada kepercayaan yang kupegang, keyakinan yang tanpa perlu alasan panjang dan logis, membuatku berani mengatakan bahwa, membeci, menghina, membuka aib dan saling hasut bukanlah jalan atau metode yang baik untuk mendamaikan keadaan, layaknya kau ingin menyaring air keruh menggunakan kain yang berlumpur. Sia-sia Basineng. Kaupun tahu itu." Lanjutku.

"Dunia tidak bekerja seperti dulu kawan, butuh lebih dari sekedar berpihak pada keyakinan untuk bisa membuat dunia ini menjadi lebih baik, atau seperti yang kau bilang, mendamaikan keadaan. Dulu, kata-kata dan syair perdamaian masih merupakan salah senjata paling ampuh dalam menggoyahkan sebuah bangsa, karena masyarakatnya matang akan ilmu, dan informasi masih begitu sulit diputar balikkan, walaupun ada juga banyak kejadian tentang fitnah yang beredar, tapi tidak secepat sekarang, dimana kebenaran hanya sejarak satu ketukan lembut pada tuts keyboard laptop ataupun handhone. Sekarang adalah jaman dimana kebenaran bukan dilihat dari sisi objektif proses kejadiannya, tapi seberapa banyak like dan seviral apa informasi itu. Pengetahuan dan informasi tak semurni dulu kawan." Katamu lagi, dahimu masih berkerut, kau sedang berpikir, tapi bukan tentang apa yang kita bicarakan sekarang, tapi tentang tugas sekolah yang dua jam lagi harus dikumpul.

"Jadi, apakah menurutmu, tak berpihak adalah betul-betul sebuah dosa?" tanyaku lagi,

"Semua tergantung sudut pandangmu, ketika 'kebiasaan' dalam tatanan sosial masyarakat kita adalah sebuah hukum mutlak, bisa jadi ketidak berpihakan adalah sebuah 'dosa' dimata masyarakat, tapi diluar itu, kau punya keyakinan lain. Dan itu bukan sebuah dosa." Kau menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopmu.

"Tapi, apakah kau yakin bahwa ketidak berpihakanmu adalah murni karena keyakinanmu itu, ataukah karena kau lebih memilih apatis agar tidak menjadi sosok yang dianggap tidak baik oleh salah satu pihak yang tak ingin kau dukung?" Kau melanjutkan percakapan dengan bertanya balik padaku.

Aku terdiam sesaat, berusaha mencerna dengan baik apa yang kau maksudkan, dan apa tujuan sebenarnya dibalik pertanyaanmu itu.

"Ketidak berpihakanku murni karena apa yang aku yakini, pun kalau aku terasing karena tidak memihak siapapun, aku tak peduli, apalagi kalau hanya dianggap tidak baik oleh salah satu dari mereka, ataupun oleh mereka semua, aku juga tidak peduli." Jawabku.

"Kalau kau sudah begitu kukuh dengan apa yang kau yakini, kenapa kalimat 'tidak berpihak adalah dosa ', kalimat yang lahir dari proses interaksi tidak sehat dari masyarakat membuatmu bimbang?" Kau kembali melempar pertanyaan setelah aku menyelesaikan kalimat terakhirku pada percakapan kita pagi itu, pagi yang mendung beberapa tahun silam. Dan seingatku, setelah itu, aku duduk dan mencerna lama apa yang baru saja kita perbicangkan.

Share:

Monday, January 30, 2017

Mesjid, Adelaide [2]


Basineng, aku ingat ketika dulu, jika jingga sudah terbias dari ufuk barat langit kita akan tergesa untuk segera pulang kerumah masing-masing, kita selalu mewaspadai sapu ijuk dan teriakan keras dari ujung lapangan, kau oleh ibumu, aku oleh nenekku. Kita  sudah paham bagaimana sapu ijuk itu akan beraksi ketika adzan magrib berkumandang dan kita belum pulang kerumah. Tak menunggu lama setelah kita pulang kerumah masing-masing, kau sudah di depan pintu rumahku lagi, dengan sarung cokelat dan baju koko andalan yang hampir tiap hari kau pakai untuk ke mesjid, entah kau punya lebih dari satu baju dengan motif yang sama ataukah kau memang selalu memakainya tiap hari. Sehabis shalat magrib, kita tak langsung beranjak pulang kerumah, tatapan tajam dari ibumu dan nenekku memaku pose kita agar tetap duduk bersila disudut mesjid sembari merapalkan ayat-ayat suci. Sudah menjadi rutinitas beberapa keluarga sekitaran mesjid untuk tetap tinggal setelah shalat magrib, mengaji dan menunggu waktu shalat isya. Sebuah rutinitas yang kala itu seringkali membuat kita kesal karena pada jam yang sama film kartun favorit kita sedang tayang. Namun, rutinitas itu yang kemudian membuat kita bisa banyak bercerita, jika sehabis mengaji waktu isya belum masuk, para orang tua akan mulai bercengkrama tentang politik ataupun isu terkini yang mereka lihat ditelevisi, dan kau pasti akan mulai bercerita tentang apa saja, lebih sering cerita lucu, cerita yang kau dapat dari hasil menggunting secara diam-diam rubrik humor koran lama diperpustakaan sekolah. Salah satu rahasia kecilmu. 

Jika musim penghujan, rutinitas kita akan bertambah tiap sore, membersihkan lumpur dan kotoran di teras mesjid. Kau yang mengambil air, aku yang mengepel lantainya. Setelah bersih, kita tak langsung beranjak pulang, secara bergantian kita masih mengambil air dan  berseluncur dilantai yang kembali licin karena guyuran air. Kegiatan sederhana disore hari yang mampu memantik gelak tawa. Sekali lagi dengan pola yang sama, kita akan berhenti jika gelap sudah merayap di kaki langit. Sejauh aku mengingat, mesjid merupakan salah satu tempat dimana kita banyak menghabiskan waktu bermain kala itu, masa dimana satu-satunya yang membuat kita khawatir adalah panggilan untuk pulang ketika magrib sudah tiba.

---

Basineng, salah satu kekhawatiranku sebelum menjejakkan kaki di Adelaide adalah kerinduan akan aroma karpet mesjid dan suasana bercakap ringan sembari menunggu Isya. Namun, kekhawatiranku terbantahkan, secara kebetulan aku mendapat temporary unit yang lokasinya tepat berada disamping salah satu mesjid di Adelaide, tepatnya di Islamic Society of South Australia, Marion Mosque yang terletak di Marion Road Park Holme. Aku masih bisa merasakan bau karpet itu Basineng, walaupun mungkin berbeda dengan bau karpet mesjid di kampung kita. Tinggal di dekat mesjid merupakan hal yang paling ku syukuri disini, bukan hanya karena aku bisa lebih dekat dengan tempat dimana doa akan lebih khidmat untuk terpanjatkan, tapi karena keramah tamahan jamaah mesjid yang sering kali memberi makanan kepada kami yang berada disekitar mesjid. Bahkan suatu ketika, waktu menunjukkan pukul sembilan malam lebih dan kudengar pintu unitku diketuk,  setelah membuka pintu aku sedikit heran melihat seorang pemuda berdiri dan memberiku kardus ukuran sedang yang berisi daging sapi. Maka nikmat tuhan mana lagi yang mampu kita dustakan Basineng. 

Sayangnya aku hanya sebulan disana, setelahnya aku pindah ke unit lain di daerah Kuralta Park, Anzac Highway, yang jaraknya sekitar 15 menit menggunakan bus dari Park Holme. Tapi tenang saja Basineng, setelah mencari tahu, ada beberapa mesjid lainnya di Adelaide. Diantaranya Central Mosque Adelaide yang terletak di Little Gilbert dan merupakan mesjid tertua di Australia, didirikan pada tahun 1888. Lalu, mesjid yang terletak di Torrens Rd, Woodville North, bernama Mesjid Al-Khalil. Jadi, kau tidak perlu bertanya apakah aku akan melewatkan banyak shalat Jumat atau tidak Basineng. Lagi pula, di University of Adelaide North Terrace, terdapat dua spot tempat untuk shalat yang disediakan oleh pihak universitas, di Union House Lt. 6, dan di gedung Nexus 10 lantai dasar. 

Untuk ketercukupan kebutuhan rohaniah kukira tidak perlu terlalu dirisaukan disini, karena ada banyak tempat dimana orang-orang bisa mencurah doa dan harap ketika masalah datang dan membuat semangat goyah. Aku senang berada disini Basineng, Adelaide.
Share: